Husein Tabataba’i,
Doktor Cilik Hafal dan Paham Al-Quran
Judul: Mukjizat Abad 20: Doktor Cilik Hafal dan Paham Al-Quran.
Penulis: Dina Y. Sulaeman
Penerbit: Pustaka IIMaN, Depok
Cetakan: I, Maret 2007
Tebal: 220 halaman
Bocah ajaib yang bernama lengkap Sayyid Muhammad Husein Tabataba’i lahir pada tanggal 16 Februari 1991 di Kota Qom, 135 km dari Teheran, ibukota Iran. Anak ketiga dari 6 bersaudara ini memiliki kemampuan yang menakjubkan dibandingkan anak-anak kecil seusianya.
Pada usia 2 tahun 4 bulan, Husein sudah hafal juz ke-30 (juz ‘amma) secara otodidak, hasil rutinitasnya mengikuti aktivitas ibunya yang menjadi penghafal dan pengajar Al-Quran. Pada usia 5 tahun, ia sudah menghafal seluruh isi Al-Quran dan bisa menerjemahkan arti setiap ayat ke dalam bahasa ibunya (bahasa Persia).
Melihat bakat istimewa Husein, ayahnya secara serius mengajarkan hafalan Quran juz 29 dan seterusnya. Dalam proses belajar, ayah Husein biasa memberikan hadiah sebagai pembangkit semangat, misalnya, “Jika kamu berhasil menghafal surah ini, ayah akan memberimu hadiah.” Selama hamil dan menyusui, ibunya juga selalu membacakan Al-Quran minimal 1 juz dalam sehari. Selain itu, ayah dan ibu Hussein juga bertekad menghafal Al-Quran bersama-sama sebelum kelahirannya. Membacakan Al-Quran kepada bayi pasti akan memberikan pengaruh positif yang sangat besar, mengingat bahwa Al-Quran adalah kalam Ilahi dan petunjuk hidup yang paling sempurna bagi manusia.
Pada Februari 1998, lelaki cilik dari Negeri Persia yang berusia 7 tahun ini tengah menjalani ujian doktoral di Gedung Hijaz College Islamic University yang terletak di jantung wilayah Kerajaan Inggris, 32 km dari Birmingham. Ia menjalani 210 menit dalam 2 kali pertemuan. 5 bidang yang diujikan dilaluinya dengan mudah. Mulai dari menghafal Al-Quran dan menerjemahkannya ke dalam bahasa ibu, menerangkan topik ayat Al-Quran, menafsirkan dan menerangkan ayat Al-Quran dengan menggunakan ayat lainnya dari Al-Quran, bercakap-cakap dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran, dan metode menerangkan makna Al-Quran dengan metode isyarat tangan.
Husein berhasil meraih nilai 93, dan pada 19 Februari 1998 ia menerima ijazah Doktor Honoris Causa dalam bidang “Science of The Retention of The Holy Quran”. Sebelum menghadapi ujian doktornya, Husein sudah datang ke Inggris 2 pekan sebelumnya. Selama itu, ia diundang di berbagai acara Qurani. Situs BBC online memberitakan bahwa sekitar 13.000 muslim Inggris datang menemui Husein di Islamic Centre yang berlokasi di Barat Laut London. Dalam pertemuan itu, berbagai pertanyaan diajukan kepadanya, dan ia menjawab semuanya dengan lancar.
Sepulang dari Inggris, rumah keluarga Tabataba’I ramai dikunjungi para tamu yang ingin memberikan selamat atas keberhasilan Hussein meraih gelar Doktor Honoris Causa. Para tamu menyempatkan diri untuk melontarkan pertanyaan dan dijawab Hussein dengan lancar. Ketika ditanya (T), “Bagaimana ujianmu di Inggris?” Ia (H) menjawab, “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS.94:6). (T):“Apa tanggapan orang-orang di sana?” (H):“Mereka tertawa” (QS.83:34) [maksudnya, mereka merasa gembira dan senang]. (T):“Buat apa engkau ke Inggris?”
(H):“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu” (QS.5:67). (T):“Engkau belum lulus SD, bagaimana mungkin bisa dapat gelar Doktor” (H):“Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka” (QS.3:170). (T): “Kapan engkau akan menikah?” (H): (sambil tersenyum)“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin” (QS.24:59). (T): “Apa pandanganmu tentang Israel?” (H): “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka “ (QS.5:41).
Tahun 1998 (usia 7 tahun), ia diundang pada Konferensi Islam dan HAM di Bosnia. Seseorang bertanya kepadanya, “Mengapa Serbia menyerang kami?” Husein menjawab, “Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus” (QS.4:102). Ketika mengunjungi Arab Saudi, Hussein ditanya, “Apa pakaian yang kamu sukai?” Ia jawab, “Pakaian takwa itulah yang paling baik” (QS.7:26).
Hussein cilik suka bermain prosotan dan mobil-mobilan bersama saudara-saudaranya. Sambil menaiki mobil-mobilannya ia berkata, “Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang” (QS.83:23). Saat bertengkar dengan saudaranya, ia mengucapkan ayat Al-Quran. Ketika saudara laki-lakinya hendak memukulnya, Hussein berteriak “Selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim” (QS.66:11).
Sejak usia 5 tahun, Hussein yang innocent sering menghias layar televisi Iran, serta tampil di berbagai koran dan majalah. Foto-fotonya dijual di toko-toko buku, baik dalam bentuk poster atau stiker. Saat tampil di TV, Hussein menatap kamera dengan percaya diri. Dengan gaya bahasa anak-anak dan sedikit cadel, dia menjelaskan hukum-hukum Islam, misalnya tentang kewajiban sholat. Ia mengutip ayat-ayat Al-Quran dengan fasih dan langsung menerjemahkannya ke dalam bahasa Persia, bahasa nasional Iran. Tata bahasa Persia yang digunakannya memiliki keistimewaan karena sangat sastrawi dan menggunakan rima (hlm.16).
Buku ini disertai pula dengan metode penghafalan Al-Quran ala Doktor Cilik yang sudah diajarkan dan dikembangkan di Sekolah “Jamiatul Quran” di Teheran dan telah ditiru di beberapa pendidikan dasar Al-Quran di Indonesia. Membaca buku ini seolah merasa dekat dengan Husein dan pasti bergetar mengenal “mukjizat abad 20” yang menakjubkan ini. (Robby H. Abror)
DIarsipkan di bawah: Resensi Buku

Assalamu’alaikum.. wr wb…
Saya salut banget dengan bocah kecil itu…
dia sangat cerdas.. saya kira IQnya lebih dari 160-an (dengan asumsi perkiraan IQ nya jauh melebihi rata2 para peserta olimpiade Matematika dan Fisika yang 140-an)
semua bentuk pertanyaan mampu dijawab langsung dengan menggunakan semua yang dihafalnya dari Al Qur’an.
tetapi untuk membandingkan dengan orang dewasa hal tersebut sulit dilakukan. walau bagaimanapun orang dewasa mempunyai wawasan pengetahuan yang lebih luas. anak kecil tersebut penguasaannya terhadap teks al Qur;an sangat luar biasa, tetapi apakah ia mengenal metode hermeneutika, pembacaan historisitas, sejarah islam dalam sudut pandang politik, sosiologis, ekonomi, dll.
selain itu dalam pemahaman al Qur;an tidak saja yang berperan adalah otak kiri, tetapi pemahaman dengan melalui otak kanan. otak kanan adalah fungsi penghayatan, pemahaman, dan sebagai sumber intuisi. dan anak kecil tersebut menjawab dengan “logika robot”.
oke.. kapan-kapan pak Robby aja yang add comment di blog saya..
tidak ada yang bagus tulisannya, tetapi perlu kritik, saran, motivasi yang mendorong kami untuk bisa menulis yang lebih baik lagi amin.
Tlsne mas arifin sdh sip kok. Mari kita baca, cintai, pahami dan coba lakukan pesan2 Kitab Suci kita Al-Quran. Semoga kita termasuk orang2 yang selalu diberi petunjuk. Amien. Matur suwun komennya mas.