Suara Merdeka, 11 Mei 2008
Magnum Opus Bapak Reformasi
Judul: Agenda-Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia!
Penulis: Mohammad Amien Rais
Penerbit: Mizan & PPSK, Yogyakarta
Cetakan: I, Maret 2008
Tebal: xiv + 298 halaman
Peresensi: Robby H. Abror
Kalau dibaca dari judulnya, mungkin banyak orang akan mengira bahwa buku ini hanya berisi ceramah biasa atau tak lebih dari obrolan ringan khas Amien Rais yang terkenal sangat bersahaja, sederhana, bahasanya renyah dan jauh dari kesan ilmiah. Tetapi setelah Anda membuka “Kata Pengantar”, paragraf demi paragraf, pendakian berbobot akademik tak lagi terbendung dan terasa mulai menyedot sorotan awam kita.
Meskipun buku ini disebut oleh penulisnya sebagai sekadar risalah, monograf atau permenungan biasa, tetapi jujur harus dikatakan di sini bahwa tidak berlebihan bila disebut inilah magnum opus bapak reformasi kita yang tergolong paling spektakuler, menyusul beberapa karyanya yang brilian dan meaningful lainnya seperti di antaranya: Cakrawala Islam dan Tauhid Sosial (keduanya juga diterbitkan oleh Mizan).
Di tengah tandusnya kajian sosial dan politik keindonesiaan kontemporer, tentunya yang berasal dari kalangan politikus atau pelaku sejarah reformasi, hadirnya buku ini tak dipungkiri lagi, benar-benar bisa mengisi dahaga intelektualitas yang selama ini kering teori sosial dan politik yang cerdas. Sentuhan diagnosisnya yang kaya akan paradigma filosofis-sosiologis-estetis telah berhasil membayar kerinduan metafisika politik sebagai sesuatu yang cukup larut tak-dapat-dihadirkan.
Ketika risalah atau monograf ini ditulis, bangsa Indonesia sudah lebih dari 62 tahun mengalami “kemerdekaan” dan “kedaulatan” nasional, sejak kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan oleh dua Bapak Bangsa, Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945 (hlm.1). Dua kata yang diberi tanda petik sengaja ditekankan Amien sebagai peringatan keras bahwa semua itu masih semu.
Lebih lanjut, Amien Rais menegaskan bahwa kita telah kehilangan kemandirian dan kedaulatan ekonomi. Kedaulatan ekonomi yang telah digadaikan pada kekuatan asing pada hakekatnya telah melemahkan kedaulatan politik, diplomatik, pertahanan dan militer kita. Dalam era globalisasi ini, Indonesia telah terseret menjadi sekadar subordinat atau agen setia bagi kepentingan asing.
Membongkar mentalitas inlander (budak; terjajah) ternyata tidak mudah. Semangat kemandirian dan rasa percaya diri yang diajarkan Bung Karno, Bung Hatta, H. Agus Salim, Syahrir telah terbang entah ke mana. Masih ingatkan kita pada saat para elit pemimpin bangsa ini merasa “ketakutan” dan panas dingin karena Presiden Bush akan mampir ke Indonesia di akhir 2006 lalu?
Pengamanan miliaran rupiah yang diberikan kepada Presiden AS, yang di negerinya sendiri sudah tidak populer itu, sungguh berlebihan dan sekaligus memalukan. Tidak ada negara mana pun di dunia yang menyambut Presiden Bush seperti maharaja diraja, kecuali Indonesia di masa kepemimpinan SBY-JK. Seolah Indonesia telah menjadi vazal atau negara protektorat AS (hlm.9).
Amien mencirikan bangsa yang bermentalitas inlander dengan suatu perasaan nikmat dalam ketergantungan. Sampai sekarang kita masih dihinggapi penyakit debt-addict, kecanduan hutang. Para pemimpin dan penguasa kita sudah benar-benar brain-washed, tercuci pikirannya. Setiap kali mendapat hutang baru dari IGGI (Inter-Govermental Group on Indonesia), para pemimpin kita merasa bangga, “Kita bersyukur dan bangga sebagai bangsa Indonesia, karena kita masih dipercaya oleh IGGI untuk mengambil hutang baru”.
Indonesia telah terjebak dalam jeratan hutang luar negeri yang makin membesar. Padahal bangsa yang tertindih hutang besar mau tidak mau pasti kehilangan bukan saja kemandirian ekonomi, tetapi juga kemandirian politik yang menjadikan bangsa itu tersandera selama hidupnya. Pada faktanya, hutang itu mengalami kebocoran besar karena terlalu banyak bagian hutang kita itu yang dikorupsi oleh para pejabat atau penguasa kita selain juga digunakan tidak sesuai rencana.
Mentalitas inlander kita juga nampak jelas dalam pengelolaan kekayaan tambang, baik migas maupun non migas. Freeport MacMoran di Papua, sejak 1967 menambang emas, perak, dan tembaga di provinsi Indonesia paling timur yang kaya raya dengan sumber daya alam itu. Kontrak Karya I diperbarui pada 1991 untuk masa setengah abad, sehingga Kontrak Karya II baru berakhir pada 2041. Bayangkan, tatkala generasi SBY-JK sudah almarhum pun, Freeport masih terus menguras habis kekayaan alam Papua (hlm.161).
Amien Rais berulang kali mengingatkan penguasa kita akan bahaya korporasi Amerika yang selalu berkaitan erat dengan beberapa kejahatan sekaligus (hlm.161-163). Pertama, kejahatan lingkungan. Buangan limbah (tailings) yang berjumlah 300 ribu ton per hari telah merusak sistem sungai Aghawagon-Otomona-Ajkwa dan ekosistemnya. Kedua, Freeport juga melakukan kejahatan perpajakan alias tidak membayar pajak. Ketiga, kejahatan etika dan moral. Freeport memberi uang sogokan kepada oknum-oknum polisi dan militer dengan dalih administrative costs, security cost, dll. Keempat, kejahatan kemanusiaan. Tujuh suku Papua yang punya hak ulayat digusur dari tanah warisan turun-temurun dan di antara mereka meninggal karena peluru satgas Freeport. Kelima, kejahatan menguras kekayaan Indonesia lewat manipulasi administrasi dan menjadikan pusat pertambangan Freeport sebagai industri pertambangan misterius dan rahasia.
Banyak sekali kritik berbobot dan sumbangan pemikiran konstruktif yang diberikan Amien Rais dalam buku ini. Tetapi, seperti yang disayangkannya, pikiran jernih hanya dapat dilakukan oleh bangsa dengan pemimpin yang bermental merdeka, berdaulat dan mandiri. Bagi Amien, bangsa yang belum sembuh dari kolonisasi mental dan lebih nyaman menghamba pada korporatokrasi internasional, tentu memilih yang mudah.
Kita sudah merdeka lebih 62 tahun dengan barisan geolog, teknisi dan profesional yang menguasai managerial knowhow buat pertambangan modern, tapi mereka dipinggirkan dan dilupakan. Pemerintah kita ternyata tidak punya nyali berhadapan dengan administrasi Bush yang ekspansif, agresif dan eksploitatif.
Selain itu masih banyak lagi masalah lain yang tidak kunjung diselesaikan pemerintah, di antaranya yaitu asingisasi penerbangan, perkebunan, perbankan, pertelekomunikasian, pelayaran dan semua proses yang menyebabkan Indonesia menjadi negara komprador, negara pelayan kepentingan asing. Belum lagi soal pencurian pasir oleh Singapura serta sikap Malaysia yang suka meremehkan. Dengan menjelajahi kata demi kata dalam buku ini, sidang pembaca dijamin akan menemukan banyak hal baru yang mengesankan. Sumbangan berharga Amien Rais ini diharapkan dapat memecah hati nurani penguasa yang lama membeku. Semoga! (Robby H. Abror)
DIarsipkan di bawah: Resensi Buku

Mas, bukunya Pak Amien ya? nihh buku ituh kumpulan antologi kayak bukunya Pak Amin Abdullah atau enggak?
Klo hiya, aku sih tertarik juga. tetapi kritikan pak Amin itu ada semacam sudut pandang teoritis apa nggak.. biasanya kan ada obyek pengetahuan (jalannya pemerintahan) dan bagaimana ia mendekati permasalahan tersebut melalui kacamata keilmuan (teoritis). Kalo permasalahan tentang kritik terhadap eksplorasi terhadap SDA Indonesia, ia memakai pendekatan yang sifatnya murni informatif belaka ataukah ia memandangnya dengan pendekatan ilmiah? keduanya berbeda, biasanya yang pertama, emosional lebih ditampakkan walaupun memakai bahasa-bahasa yang ilmiah sedangkan yang kedua adalah murni pendekatan teoritis. ia mengkaji suatu permasalahan dengan memakai berbagai pendekatan dalam keilmuan (sosial dan Politik).
Kritik Pak Amien terhadap pemerintahan mirip dengan kritik Hizbut Tahrir indonesia. Beliau selalu mengkritik kebijakan ekonomi dan politik, begitu juga para aktivis HTI melalui bulletin jum’at yang disebarkan melalui masjid2. walaupun lebih otoritatif Pak Amien, tetapi mereka mempunyai pandangan yang hampir sama. walaupun Pak Amin sendiri mungkin akan menolak sistem khilafah sebagai ganti sistem pemerintahan yang ada sekarang ini.
cukup dulu ya Mas (Kalo di luar kampus kan manggilnya “mas” bukan “Pak”) . Insya Allah ke depan kita bisa saling tukar pendapat melalui forum ini (blog). Tolong Mas juga membrikan saran, kritik maupun masukan dalam bentuk komentarku di alamat blog saya di http://akhmadarifin.wordpress.com/ atau di friendster ku di alamat berikut ini; http://profiles.friendster.com/48127345
Baca bukunya sampai khatam baru kita diskusi lebih lanjut. Okay. Thanx 4 comment, bro!