Suara Merdeka, 1 Juni 2008
Kontroversi Iman Muslimah Liberal
Judul: Beriman Tanpa Rasa Takut. Tantangan Umat Islam Saat ini
Penulis: Irshad Manji
Penerbit: Nun Publisher, Jakarta
Cetakan: I, April 2008
Tebal: 342 halaman
Peresensi: Robby H. Abror
Gema pembebasan muslimah liberal, Irshad Manji, telah menembus batas agama, budaya dan negara. “Aku seorang muslim yang beriman”, sebuah pengakuan yang sudah barangtentu identik dengan kepatuhan total kepada Tuhan. Tetapi, pernyataan itu akan menohok kaum beriman setelah ia juga menegaskan bahwa dirinya adalah seorang lesbian.
Irshad Manji dianggap sebagai mimpi buruk bagi Osama bin Laden. Kegeramannya terhadap kekerasan yang seringkali mengatasnamakan agama tak bisa ditutup-tutupi lagi. Karenanya, ia bersikeras untuk menemukan keotentikan Islam melalui caranya sendiri. Jalan kebebasan yang ia pilih mendorongnya untuk membebaskan dirinya sendiri dari semua doktrin agama yang mengungkung dan menakutkan.
Dalam perjalanan hidupnya, muslimah kelahiran Uganda, Afrika Timur berdarah India-Mesir ini, menemukan banyak sekali ketidaksesuaian dalam agamanya. Seperti paparannya, bahwa ia merasa harus berkata jujur pada semua orang terutama tentang hubungannya dengan agamanya yang kurang begitu menyenangkan. Hidupnya bergantung pada fatwa yang dikeluarkan oleh orang-orang yang mengklaim diri mereka sebagai wakil Allah (hlm.34). Mengapa ia sampai pada kesimpulan ini?
Irshad Manji mengaku kenyang melihat fenomena keislaman yang sering didiskreditkan oleh Barat dan Eropa. Berdasarkan fakta-fakta yang ia himpun, ia menyaksikan betapa rapuhnya kemampuan umatnya untuk merekonstruksi logika berpikir yang seimbang dan sesuai antara kitab suci dengan realitas. Bertindak tanpa berpikir ulang adalah kebiasaan yang mengandung resiko, tetapi anehnya menurutnya tetap dilestarikan.
Di balik segala penuturannya yang jujur dan apa adanya, Irshad Manji barangkali lupa jika dirinya meneropong Islam sebagai fenomena. Secara fenomenologis, setiap orang boleh saja menyimpulkan pandangannya secara taken for granted. Seharusnya ia lebih terbuka dalam tulisannya, bahwa ia harus memilih untuk menggunakan perspektif antropologiskah, sosiologis atau politik? Sehingga paparannya yang cenderung eksplosif dan emosional tidak dicibir begitu saja hanya sebagai dongeng di siang bolong.
Memang tidak sedikit kritiknya atas Islam yang didasarkan pada pengalaman empiris dalam jejak rekam sejarah hidupnya yang bisa diambil sebagai pelajaran berharga untuk umatnya. Tetapi “prestasi” personalnya itu tidak akan pernah bisa melewati arus utama para pemegang otoritas dalam Islam. Selamanya!
Ia benar, ketika menegaskan bahwa dirinya tidak mau bungkam atas kebiadaban dan intoleransi yang dilakukan oleh para pemegang otoritas di beberapa negeri mayoritas Muslim. Tetapi ia tidak bisa begitu saja mereduksi dan menggeneralisir “topografi” fenomenologisnya kepada Islam.
Gaya bertutur dan argumentasi menyerang dan bertahan model Irshad Manji tidak bisa disamakan begitu saja dengan Nasr Hamid Abu Zayd yang pernah mengatakan bahwa “al-Quran sebagai teks kebudayaan”. Atau apalagi dengan Khaled Abou El-Fadl, muslim liberal yang tak pernah berhenti memperingatkan “para pemegang otoritas agar tidak mengaku sebagai Tuhan”.
Irshad Manji sebenarnya ingin berselancar dalam jagad feminisme Islam untuk paling tidak ikut menyumbangkan ekspresi kegelisahannya yang telah begitu lama merasa terkungkung dalam selimut ketakutan, teralienasikan oleh doktrin agamanya sendiri, terabaikan eksistensinya di hadapan para pemegang otoritas. Ia ingin mendobrak tabu dengan melawan setiap bentuk kezaliman yang jelas-jelas berseberangan dengan aqidahnya. Tetapi aqidah macam apa yang ia tawarkan?
Pluralisme (dan humanisme). Jelas ia tak bisa mengelak dari indahnya perbedaan dan keharusan membela dan menagakkan HAM. Kebebasan dimaknainya sebagai kemerdekaan hidup beragama. Baginya, setiap orang bebas berkehendak. Ia mendukung habis-habisan kaum gay dan lesbian. Tampaknya, di sinilah kelemahannya bahwa ia terpaksa terjebak dalam context of justification. Ia berusaha dengan caranya sendiri menafsirkan kitab sucinya untuk menjustifikasi pilihannya sendiri. Tidak heran, jika ia sampai pada kesimpulan bahwa ia beriman tanpa rasa takut (bersalah!).
Hampir saja ia mencampakkan agamanya dan menghapus identitas dirinya sebagai seorang muslim. Mengapa ia tidak melakukannya? Ia mengaku masih setia pada keadilan. Ia selalu mencoba memberikan penilaian pada Islam secara adil karena, menurut ukurannya yang cenderung mengikuti Barat, objektivitas adalah segala-galanya. Ia merasa harus menemukan Islam yang sebenarnya, bukan Islam yang tampak dari luar (hlm. 57-58).
Di tengah ketekunannya terhadap jurnalistik, ia makin meneguhkan ide pembaruan dalam Islam. Ia menyebut dirinya sebagai ”muslim refusenik”, yaitu seseorang yang berpikiran liberal, independen, dan anti-fundamentalis.
Sejak Januari 2008, ia bergabung dengan Universitas New York dan mendirikan serta memimpin The Moral Courage Project yang menyokong generasi muda memperjuangkan kebenaran dan pemberdayaan diri. Pemikirannya yang kritis terhadap Islam ortodoks dan perjuangannya membela hak-hak asasi manusia terutama di kalangan perempuan Muslim membuat aktivis ini memperoleh banyak dukungan dan pujian dari Barat.
Buku ini ditulis dengan bahasa yang lugas dan santai sehingga pernyataan yang meledak dan meledek disuguhkan tanpa basa-basi lagi. Pemikirannya telah memicu banyak perdebatan yang seru. Bagi para penggemar senam pemikiran, tidak ada salahnya jika ikut mengkritisi gagasan liberal, transformatif dan berani gaya Irshad Manji yang lumayan kontroversial. (Robby H. Abror)
DIarsipkan di bawah: Resensi Buku

Assww…
Tentang Irshad Manji itu, sebenarnya banyak “kembaran”nya di Indonesia ini,, mereka berteriak-teriak “Kebebasan-kebebasan” melulu sambil menuding-nuding ummat islam dan seraya menyatakan bahwa ummat islam selalu menekannya. Pertanyaannya, bukankah Irshad manji dan para kembarannya itu berteriak-teriak seperti itu hanya dimungkinkan karena ia bebas menyatakan itu. klo enggak, kenapa ia menyatakan itu? buktinya ia masih hidup dan dapat pergi kemana-mana dengan aman dan tak pernah dicemooh, bahkan di lingkungan orang liberal seakan dijadikan pahlawan.
coba deh bandingin ama Frank Ribery yang muslim. ia sebagai seorang mu’alaf selalu berdoa a la islam. tetapi dengan do’a a la islam itu ia selalu dicemooh setiap kali ia menggiring bola. dan F. Ribery tak seperti Irshad manji, baru digituin aja dah ngomel-omel tak karuan sampai nulis buku.
Masalah Lesbi itu apabila memakai sudut pandang ethika, maka banyak para filsuf barat menggunakan kacamata positivistik dalam menyelesaikan permasalahan tersbeut. maka pertanyaannya, apakah perilaku lesbi/ homoseksual tersebut merupakan suatu hal yang alami atau tidak? ataukah ia hanya merupakan suatu hasil interaksi sosial yang anormal?
apabila point pertama benar, maka homoseksual dapat dibenarkan, dan apabila point kedua yang benar, maka hal itu dapat dibenarkan dengan cara membebaskan para pelaku atau dilarang dengan menggunakan terapy psikologis.
Nah dalam suatu penelitian, maka didapatkan sebuah penelitian kalo lesbi/homoseksual alias perkawinan sesama jenis juga didapati pada sejumlah spesies, tetapi asumsi tersebut perlu dipertanyakan kembali, karena menurut teori evolusi itu sendiri bahwa seluruh perilaku kebinatangan terkait dengan seksual bertujuan untuk melakukan reproduksi walaupun itu bersifat instingtif. selain itu tesis itu dipertanyakan, karena ada kemungkinan adanya kesalahan tafsir terhadap perilaku kebinatangan. apalagi yang melakukan penelitian adalah orang-orang yang mendukung perkawinan sesama jenis.
saya kira, pernyataan dalam buku tersebut bukan lah suatu hal yang hebat. karena, walaupun aku belum membaca buku itu, aku yakin isinya akan sama dengan “Jangan Lepas Jilbabku’ karangan seorang “mahasiswi” UGM. karena buku kembaran itu ada banyak “pating tlecek” dan (bukan bermaksud untuk sombong) aku tidak merasa perlu untuk membaca buku tersebut, karena idenya aku sudah tahu.
Apabila dijadikan sebuah skripsi, kita hanya mengulang kalimat ribuan kali yang disuarakan oleh JIL, LKiS, JIMM dkk. organisasi2 tersebut, aku tidak mempunyai rasa hormat atau sikap respek barang sedikit pun terhadap mereka.
Saya kira perlu diadakan wacana “pembubaran pemikiran islam liberal”. karena banyak wacana islam liberal yang menyinggung perasaan kaum muslimin. bukankah itu adalah bentuk kekerasan verbal? apabila pemerintah konsisten akan menindak seluruh kekerasan, maka tidak hanya kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan verbal juga perlu diusut dan kalo perlu dijatuhi sanksi yang berat.
oh ya,, pak aku mempunyai beberapa blog sleain blog di wordpress, ada beberapa blog yang aku “kelola”, yaitu;
1. lucudanselaluceria.blogspot.com
2. lokusululalbab.blogspot.com
3.kammiuinyogya.blogspot.com
yang di wordpress jarang aku pakai,
wsslww..
Terima kasih telah berkunjung ke blog sy yang serba biasa ini he he… Maklum ngga sempat ngotak-atik dan mendesain. Kpn2 dech sy coba perbaiki lg blognya insya Allah. Syukron atas komentar2nya mas. Sukses selalu. Ayo terus berkarya! Hidup sekali hiduplah yang berarti!