• Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

Bedah Pustaka

Media Indonesia, Sabtu, 14 Juni 2008, hlm.18

Dongeng Nias di Mata Orang Jawa

Oleh: Robby H. Abror

Judul: Melacak Batu Menguak Mitos, Petualangan Antarbudaya di Nias

Penulis: Jajang A. Sonjaya (Ama Robi Hia)
Penerbit: Kanisius dan Impulse, Yogyakarta

Cetakan: I, 2008
Tebal: xv + 147 halaman

Nias dikenal sesungguhnya bukan hanya karena hasil pertanian atau pariwisatanya, melainkan juga karena digoyang gempa dahsyat 8,7 Skala Richter (SR) pada 28 Maret 2005 lalu, padahal tiga bulan sebelumnya juga terimbas gelombang tsunami Aceh (26 Desember 2004). Meskipun demikian, Nias masih menyimpan kekayaan purbakala yang sangat mengesankan.

Tercatat dalam sejarahnya sejak masa kolonial, Nias sudah dikenal para peneliti asing sebagai tempat yang unik dan eksotis.

Kebanyakan penelitian yang dilakukan di bidang antropologi, arkeologi, sejarah, agama, dan bahasa.

Salah satu objek penelitiannya yang masyhur terletak di daerah Teluk Dalam. Di sana terdapat peninggalan arkeologis yang mengagumkan seperti ombo batu (lompat batu), daro-daro (kursi batu), nitaro’o (menhir), dsb. Dari sisi topografisnya, Pulau Nias berupa dataran rendah dengan bukit-bukit di bagian tengahnya. Mata pencaharian penduduk pedalaman adalah pertanian dan perladangan, sedangkan di pesisir sebagian besar nelayan.

Nias terdiri atas gugusan pulau besar dan kecil jumlahnya 132 pulau yang terletak di sebelah barat Sumatera Utara. Pulau Nias merupakan pusat administrasi. Untuk mencapai Nias, kita bisa berangkat dari Medan menuju ke Gunung Sitoli menggunakan pesawat terbang dengan waktu tempuh 55 menit.

Di sisi lain, dari asepk bahasanya tergolong dalam rumpun Austronesia dengan ciri dialeknya yang bernada tinggi di akhir kata. Seperti ucapan salam ya’ahowu yang intonasinya berbeda dengan punten di ranah Sunda atau kulo nuwun di Jawa. Cara pengucapannya seperti pekik merdeka dengan nada keras dan intonasi naik di bagian akhir. Lalu sebenarnya dari mana asal suku Nias?

Buku hasil penelitian ini mempersembahkan potret petualangan yang mengesankan yaitu menyusuri daerah Boronadu (boro: awal, adu: patung) yang diyakini sebagai asal suku Nias. Orang-orang Nias kebanyakan meyakini Boronadu adalah tempat manusia Nias pertama turun dari langit. Sekarang, nama itu berubah menjadi Desa Sifalago Gomo terletak di Kecamatan Gomo, Kabupaten Nias Selatan. Sangat terpencil, dikelilingi gunung-gunung sehingga suasana kekunoannya masih sangat terasa.

Di Boronadu terdapat banyak batu megalitik (mega: besar, lithos: batu > artefak batu besar) seperti lompat batu di Teluk Dalam yang gambarnya pernah menghiasi uang kertas rupiah kita. Sayangnya, batu-batu megalitik tersebut sekarang sudah tidak digunakan lagi untuk aktivitas keseharian dan religi, tetapi hanya sebagai tempat menjemur pakaian atau biji cokelat, salah satu hasil perkebunan utama penduduk sana saat ini.

Jajang A. Sonjaya, penulis yang juga dosen muda Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini bisa dibilang hebat, setelah dua tahun bergaul dengan orang Nias pedalaman, ia mendapat kehormatan dengan dikukuhkan menjadi marga Hia dengan nama Ama Robi Hia (ama: bapak, robi: anak pertamanya, hia: marga orang tua angkatnya).

Ia berhasil melampaui tahap demi tahap cara membaur dan bergaul dengan masyarakat lokal di pedalaman Nias. Sulit dibayangkan sebab begitu banyak peneliti yang menyerah di Nias, bahkan ada yang dibunuh karena gagal berbaur dan menghargai orang Nias. Pengakuan yang tulus terpancar dari kesulitan yang ia hadapi di masa penjajakan awal, “Seluruh warga desa beragama Katolik dan Kristen, sedangkan saya Muslim” (halaman 18).

Di sinilah letak ‘kehebatan’ Jajang, kebimbangannya hilang ketika sirih pertama masuk ke dalam mulutnya. Itulah kunci pertama agar orang luar bisa berbaur dengan orang Nias.

Kalau biasanya di daerah lain, tamu selalu dijamu dengan minuman, lain halnya di Nias, tamu disodori sirih (terdiri dari: daun sirih, pinang muda, gambir, kapur dan tembakau) yang diletakkan dalam wadah kaleng. Selain itu, tamu harus menghadapi hidangan daging babi dan minuman keras yang menjadi “menu” keseharian orang Nias.

Bagaimana Jajang melewati ‘pantangan’ itu? Ini pilihan sulit yang berhasil diatasinya, “Saya mencoba memahami arti segelas air itu (minuman keras) dari perspektif si pemberi, karena dari perspektif saya sudah jelas bahwa saya harus menolaknya” (halaman 21). Hanya dalam waktu dua bulan, ia sudah merasa benar-benar menjadi orang Nias, makan sirih, mengikuti pesta-pesta adat, menghadiri upacara kematian, ke gereja setiap hari Minggu, mandi telanjang di sungai, menari maena dan fabaluse, bermain ukulele bersama anak-anak muda, pergi ke pasar di pusat kecamatan setiap Jumat, menyadap karet, memetik cokelat, mengajar SMP Boronadu, dan sebagainya.

Di balik aktivitas kesehariannya itu, Nias juga memiliki ‘kisah’ yang khas tentang eksistensi perempuan. Sebagaimana diakui Jajang, “Perempuan Nias itu cantik-cantik, kulitnya kuning dan matanya tajam” (halaman 105).

Tetapi dalam kenyataannya, ‘kecantikan’ itu tidak menjadi kelebihan orang Nias sebab mereka berada dalam posisi sangat marjinal. Perempuan di sana sangat takut terhadap laki-laki. Di Nias, diharamkan bagi laki-laki untuk bersentuhan dan melirik perempuan. Jika itu terjadi, bisa-bisa nyawa taruhannya.

Perempuan Nias adalah entitas yang eksklusif yang harus dijaga pihak keluarganya dari laki-laki. Di Nias perempuan itu dibeli. Ada 28 syarat yang harus dipenuhi seorang laki-laki yang mau menikahi perempuan Nias yang semuanya berupa persembahan babi, yang jika dikalkulasikan bisa mencapai sekitar Rp. 50 juta. Sangat berat bukan? Itulah mengapa banyak pemuda Nias yang mencari perempuan di luar daerah, baru kemudian diajak hidup di Nias.

Hidup perempuan Nias sungguh berat. Suatu malam dalam perjalanan membelah hutan dan gunung melewati jalan setapak yang terjal, perempuan dibebani sesuatu yang sangat berat. Mereka harus membawa ransel dan semua barang milik anggota rombongan pelayat.

Selain itu, pada aktivitas hidup sehari-hari, misalnya saat pergi ke ladang menyusuri sungai dan harus naik ke punggung gunung, seorang ibu dan anak perempuannya harus bekerja keras membawakan semua bekal yang dibutuhkan termasuk makanan dan minuman. Sesampainya di ladang, mereka masih harus mencari talas, mengambil cokelat dan mengumpulkan sayuran. Di sisi lain, kaum laki-laki hanya membawa golok di pinggang mereka.

Saat pulang pun beban ibulah yang paling berat karena masih harus mengusung cokelat di atas kepala sambil menenteng sayuran. Sesampainya di rumah, kaum laki-laki sudah bisa istirahat. Sedangkan perempuan masih harus menyiapkan wadah dan menjemurnya untuk keesokan harinya, menanak nasi dan memasak untuk makan malam.

Itulah rutinitas perempuan di Boronadu. Tiada hari tanpa bekerja. Kaum perempuan baru dikenang dan dihargai ketika mereka sudah tiada.

Di balik eksotismenya, selarung pemarginalan kaum hawa di Nias tak kuasa disanggah. Potret kehidupan perempuan Nias adalah buktinya.

Buku ini menyiratkan pesan moral penting bahwa untuk bisa menghargai budaya sendiri, seseorang harus bisa menghargai budaya orang lain. Itulah saya kira petualangan orang Jawa-Sunda-Islam yang berhasil menjadi bagian dari orang Nias-Katolik-Kristen. Meskipun sudah rahasia umum, jika sebagai peneliti seseorang seringkali dituduh ‘bersikap pura-pura belaka’. Tentu saja apalagi kalau bukan untuk memperoleh data empirik.

Saya kira sosok Jajang dengan sendirinya melampaui hal itu, meski ia mengaku persinggahan temporernya itu hanyalah sebuah dongeng dalam bagian hidupnya.(Robby H. Abror)

3 Tanggapan

  1. Assl
    artikel Bapak ini bagus banget, koz menggambarkan tentang seorang peneliti yang mau gak mau harus masuk dalam “dunia” orang Nias, emang itu konsekwensi dari penelitian dengan pendekatan partisipatori, sehingga memahami emosional suatu masyarakat lebih diutamakan daripada tinjauan empiris (fungsionalis/strukturalis ataupun positivistik).

    Salah satu caranya adalah keterlibatan kita dalam aktivitas keseharian mereka sehingga dapat menemukan makna. penelitian Jajang tidak akan berhasil apabila tidak melakukan sedemikian itu.

    memang sulit apabila dihadapkan pada persoalan fikih, hukumnya apa sih? terus terang saya sulit menjawabnya, satu sisi kita harus bertindak profesional, tetapi sebagai seorang muslim kita harus berpegang teguh pada identitas kemusliman kita.

    Franz Magnis Suseno pun menolak bentuk pluralisme, ia menegaskan pentingnya identitas diri di tengah pluralitas ummat manusia (hal ini beliau sampaikan kepada Mas Adian sendiri). Pertanyaannya kenapa seorang misionaris dapat masuk begitu mudah dalam tradisi yg jelas bertentangan dengan tradisi mereka?

    ada cerita tentang seorang pastur yang ditugaskan di suatu wilayah di pedalaman Amazon Brasil. Ia juga sangat bingung ketika menghadapi bentuk ritual gereja yang mereka lakukan. salah satu mereka mempercayai kristus, tetapi di sisi yang lain mereka menggunakan mantra dan menyebutkan nama-nama dewa mereka dalam ritual keagamaan.

    Oleh Karena itu saya kira kaum muslimin perlu belajar kepada Pak Jajang, agar dakwah islam dapat masuk ke wilayah non muslim, tanpa menimbulkan norma pada masyarakat setempat sehingga bisa menunjang keberhasilan dakwah.

    Yang jelas apapun bentuk masyarakat Nias, kita perlu menghargainya. memang ada kesan kita harus mengikuti suatu pendapat umum yang dijadikan “patokan” pada tradisi mereka. kita harus begini dan begitu kalo tidak maka nyawa taruhannya. (tapi anehnya untuk urusan yang satu ini gak pernah dinilai melanggar HAM atau tidak, dan kelompok JIL tidak akan pernah melihat hal ini sebagai bentuk pemaksaan, kan ia hanya berprofesi ngutuk2 kaum muslimin?).

    apabila kita kembali membandingkan kelompok ini dengan toleransi yang diberikan ummat islam, maka toleransi yang diberikan ummat islam jauh lebih besar. mereka dibebaskan untuk membangun gereja mereka di desa2 kaum muslimin (walaupun penduduk kristennya cuman 4 keluarga). Mereka juga tidak pernah dipaksa untuk mengerjakan apa yang tidak sesuai dengan pandangan agama mereka, bahkan mereka dibebaskan untuk menentang keras syariat islam, suatu konsep suci yang tabu untuk dilecehkan apalagi untuk ditolak mentah-mentah oleh ummat islam.

    Saya kira seandainya saya disana memakai peci, bersarung dan berbaju koko maka akan ditolak oleh mereka, tetapi bukankah orang kristen di wilayah islam dibebaskan memakai salib (salibnya kalo perlu dibuat besar kalo enggak bajunya dilepas kancing atasnya biar salibnya lebih keliatan), memakai kaos dengan tulisan ” I belong to Christ” atau bahkan memakai pakaian dengan baju dibelakangnya bertuliskan “kulo nderek gusti Yesus, sinten sing gelem tumut nggih? gen angsal selamet”.. dan hal itu dah jamak terjadi di wilayah dimana kaum muslimin menjadi mayoritas.

    tapi lebih anehnya lagi indonesia dikenal di luar negeri sebagai suatu negara yang tidak toleran terhadap kaum agama minoritas, terjadinya pembantaian-pembantaian yang dilakukan kaum muslimin di indonesia, dll. dan hal tersebut diungkapkan oleh orang kristen,
    so ???

    Tetapi ummat muslimin semestinya sebagai sebuah ummat terbaik dan bisa memberikan suatu bentuk toleransi yang lebih tinggi, walaupun toleransi yang diberikan oleh ummat islam itu tidak pernah dihargai sedikitpun oleh kaum minoritas.

    kembali pada persoalan penelitian….
    saya sendiri sangat salut dengan Pak Jajang. cuman pertanyaan saya,
    1. apakah betul-betul tidak bisa untuk tidak memasuki “dunia mereka” sepenuhnya? artinya kita gak makan babi, gak minum minuman keras, gak percaya bentuk tahayul atau gak pergi ke gereja dan hanya mengerjakan tradisi Nias sepanjang itu tidak bertentangan dengan ajaran islam secara qoth’i?

    2. apakah metode partisipatoris yg digunakan Pak Jajang itu mempunyai bentuk tujuan nilai tertentu atau hanya sekedar mengumpulkan data pengetahuan tentang masyarakat nias belaka? Kalo sekedar mengumpulkan data dan mengetahui keadaan masyarakat secara apa adanya (netral/obyektif), kenapa mesti harus mengorbankan agamanya?

    3. Klo pak Jajang mengetahui keadaan pada masyarakat dengan mengerjakan semua bentuk aktivitasnya untuk menghargai masyarakat NIas? dimana penghargaan Pak Jajang terhadap kaum muslimin? bukankah ia selain menghormati orang nias untuk dapat bercengkerama dengan mereka ia harus menghormati kaum muslimin, agar tidak selalu menganggap agama islam sebagai barang rongsokan yang mesti ditinggalkan demi menghormati orang lain?

    Tetapi apapun Pak Jajang, kita harus menghormatinya sebagai seorang peneliti yang handal. bahkan ia merupakan satu-satunya peneliti yang bisa dianggap sukses meneliti masyarakat Nias. sebagai muslim, aku sangat respek terhadap bentuk profesionalitasnya.

    dan apabila dibandingin ama Islam Liberal (atau JIL) aku sangat jauh menghormati orang semacam Pak Jajang daripada mereka(JIL), hehehe… (kalo yg ini Bapak tau sendiri kan?)… wsslww

  2. Thx 4 comments mas arifin. Wah betah juga membaca tlsn sy sampai tuntas. Smg setiap keikhlasan jenengan sll diberkahi. Amien. Ya itulah, wajah peneliti yg saya bilang kadang harus “berpura-pura” demi profesionalitas. Soal fikih, wah Jajang bisa2 sudah difatwa “kafir” tuch he he… Tapi byk pelajaran penting yg bisa kita peroleh dari Jajang ini. Dia sdh menghasilkan 40-an lebih penelitian penting. Yg dibukukan baru 1. Kita sudah berapa penelitian??? Syukron.

  3. 40 hasil penelitian??? wahhh keren banget!!!

    saya sendiri terus terang ingin melakukan penelitian tentang hubungan emosional antara pemikiran Kelompok Islam Liberal dengan background keagamaan mereka. Jadi tinjauannya sosiologis dan psikologis, bukan tinjauan filologinya, kalo tinjauan filologinya, entar malah bertentangan kan?

    Jadi ada beberapa bentuk kecurigaan saya terhadap ‘teks JIL dan LKiS’, yang membuat saya begitu penasaran
    1. Kenapa rata-rata orang yang berfikiran seperti itu malah orang2 yg berasal dari background santri yang lebih kental, yg bagi saya sendiri jauh lebih islami daripada santri di kota?
    2. Kenapa semua pemikiran seakan-akan ditujukan kepada kelompok tertentu, dimana kelompok yang dituju itu mempunyai “sejarah konflik” dengan kultur mereka?
    3. Kenapa mereka di satu sisi mempunyai wacana “kebablasan” tetapi di satu sisi mempunyai penghormatan terhadap tradisi dimana mereka berasal?
    4. Kenapa mereka lebih mudah bergaul dan membentuk jaringan dengan orang2 yng mempunyai background sama? daripada dengan komunitas luar?
    5. Kenapa mereka tidak pernah memfokuskan diri pada ide pluralisme islam, malah lebih tertarik kepada pluralisme agama, bukankah selama ini ummat islam banyak berdebat dan bermusuhan satu dengan lainnya oleh karena itu kan juga perlu wacana pluralisme islam? dan saya kira tak kalah urgensinya.
    6. Kenapa lebih mudah bergaul dengan orang nasrani daripada orang dari komunitas islam urban? bukankah inklusivisme itu tidak hanya kepada agama lain, tetapi juga inklusivisme terhadap semua golongan (termasuk bersikap toleran / inklusif dan terbuka kepada MMI, HTI, dan Gerakan Tarbiyah atau FPI sekalipun).

    saya kira “teks-teks” diatas perlu dilakukan dan dibaca kembali, agar kita dapat memahami lebih mendalam tentang teks diatas. saya sudah menulis ide ini kepada Mas Adian Husaini, tetapi tak pernah direspon, walaupun bagi saya mengetahui secara emosional mereka adalah lebih baik.

    seandainya penelitian ini terlaksana (walaupun itu tidak mungkin) mungkin aku akan mengalami hal yang sama dengan Pak Jajang, dimana ada “perasaan” tertentu yang akan dibuang. baik itu sikap kebencian maupun membiarkan perasaan dan pola pikir kita disesuaikan dengan mereka.

    Tetapi mengetahui mereka secara emosional sudah tentu mempunyai tujuan tersendiri, yaitu menanggulangi “liberalisme” mewabah di kalangan kaum muslimin, terutama menanggulangi wabah tersebut pada komunitas nahdliyin karena lebih berpotensi daripada kaum santri pada masyarakat urban.

    ada beberapa hal yang membuat mereka berpola pikir tersebut sebagai hipotesis penelitian (apabila terlaksana..)
    1. sebagai bentuk perlawanan terhadap komunitas santri urban yang mempunyai kecenderungan ke arah fundamentalisme
    2. sebagai suatu wacana pendobrakan terhadap asumsi yang diberikan kepada mereka. artinya mereka berusaha menghapus asumsi; kolot, jumud, kurang maju yang biasanya biasa di arahkan kepada mereka. (hal ini dapat dilihat dari bentuk kebanggaan dan mengidentikkan pemikiran liberal dengan kemajuan, anti kejumudan dll).
    3. kurang terintegrasinya para pemuda nahdliyin pada komunitas islam urban, karena;
    - kelompok islam urban, lebih cenderung tidak menyukai tradisi keislaman yang dianggapnya tidak ada tuntunan rasul (bagi saya sendiri itu tidak masalah).
    - kurangnya penghormatan terhadap orang nahdliyin, dan tidak diberikan tempat bagi mereka terutama pada bidang keagamaan (padahal menurut saya, orang NU itu mempunyai wawasan pengetahuan keagamaan yang lebih luas daripada kelompok islam urban).
    - fanatisme dan kuatnya ikatan primordial sendiri di tubuh nahdliyin, sehingga membentuk kelompok keagamaan yang berbeda.
    4. Wibawanya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai legitimator pemikiran liberal dengan menggotong isu demokratisasi dan kebebasan.

    untuk itu diperlukan dua jenis penelitian;.
    1. Penelitian Lapangan, wawancara (yang melibatkan psikolog dan sosiolog) untuk mengetahui segi emosional dan segi sosial-kultural mereka.
    2. Penelitian Pusataka, agar kekayaan tulisan-tulisan yang ditulis diberbagai situs, buku-buku merupakan kekayaan data yang berlimpah. catatan pemikiran hanya sebagai ungkapan emosional oleh karena itu perlu ditafsirkan oleh para psikolog, sedangkan penelitian tentang mereka, kita dudukkan sebagai “kekayaan” eksplorasi penelitian kita.

    Gimana ya caranya cari ‘modal’ untuk penelitian? kan sesuai dengan rumus….
    Log + (-Log.t) = Anr. K
    maksudnya… ya…
    Logika tanpa Logistik sama dengan Anarkis. hehehe

Tinggalkan Balasan