SUARA MERDEKA, 02 Juni 2009
Manuver Amien Rais dan Pendewasaan PAN
Oleh Robby H Abror *)
DI jagad politik Indonesia, sosok Amien Rais boleh dibilang sangat fenomenal. Ia tokoh reformasi, sang pembawa perubahan buat negeri ini. Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY serta para wakil dan menteri mereka seharusnya berterima kasih banyak kepadanya. Langkah berani dan pikiran-pikiran Amien telah memberikan kontribusi penting buat bangsa ini. Setidak-tidaknya dalam penggalan sejarah pasca-Orde Baru negeri ini.
Amien telah menyejarah melalui sikap dan pikiran-pikiran cemerlangnya. Tidak ada yang berubah dari sikap dan gaya berpikirnya: kritis dan terus terang. Setiap komentarnya bernilai, meskipun sebagian orang tidak sependapat. Kendati demikian, sebagian orang tetap saja mempergunjingkan tema-tema penting yang pernah dilontarkan Amien, meskipun mereka tidak menyebut nama. Misalnya, isu tentang negara federal, reformasi, amandemen undang-undang, istilah KKN, kezaliman Freeport, perlunya negosiasi ulang kontrak karya, neolib, dan sebagainya.
Pemikiran Amien tetap bisa dinikmati dan sering menggelitik orang lain untuk berdiskusi lebih lanjut, baik yang pro maupun kontra. Amien tetap konsisten dalam sentuhan nalar kritisnya. Fakta itu minimal dapat dipotret sejak awal bergulir reformasi hingga saat ini. Faktanya, sikap konsisten itu banyak disalahpahami orang, termasuk anak buahnya sendiri yang berasal dari wilayah paling dekat dengannya yaitu PAN (Partai Amanat Nasional). Lalu, apa makna konsistensi Amien yang kerap kali melahirkan kontroversi dan salah paham?
Mesin yang Berpikir
Amien Rais bagaikan ’’mesin pikiran’’ yang tak kenal lelah memberikan kritik dan masukan bagi wacana politik di tanah air. Bahan bakarnya iman dan amal saleh. Amien mengimani kebenaran tauhid yang mempunyai daya dobrak yang kukuh. Ia juga mengamalkan keyakinan itu dengan segenggam keberanian historis untuk membangun sejarah kesalehan di negeri ini. Menjadikan negara yang bertauhid dan anak-anak bangsanya yang saleh adalah sebuah tafsir yang membumi terhadap Alquran dan Sunah.
Tidak mudah memahami pemikirannya, hanya dari satu sudut pandang, misalnya politik atau agama saja. Setidak-tidaknyanya menafsirkan pemikirannya dapat dimulai dari sebuah pemahaman yang mendalam terhadap keyakinannya dan ideologinya, sehingga menjadikannya seperti ’’mesin yang berpikir’’.
Satu contoh (kasus dari) pikiran Amien yang mengandung multitafsir yaitu keputusannya memilih Hatta Radjasa (HR) untuk mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai calon wakil presiden (cawapres) yang diamini oleh semua DPW PAN. Pilihan ini membuat santrinya, Sutrisno Bachir (SB) terkejut dan kecewa berat kepada kiainya sendiri. Meskipun akhirnya SBY lebih memilih Boediono daripada HR.
Dari situ dapat digarisbawahi setidaknya tiga masalah utama yang muncul dan masing-masing melahirkan percabangan penafsiran yang menarik untuk dipetakan. Pertama, kesan serbanegatif Sutrisno Bachir terhadap keputusan Amien. Kedua, dukungan DPW PAN yang sudah telanjur dikristalkan ke satu arah (HR). Ketiga, kekecewaan Amien terhadap SBY dan kritiknya pada Boediono yang dianggapnya neolib.
Mengenai masalah yang pertama, Sutrisno Bachir dalam banyak komentar di media massa terkesan menyalahkan Amien, meskipun tidak secara terang-terangan. Tetapi demonstrasi para pendukung Sutrisno Bachir ke kantor DPW PAN Jateng beberapa waktu lalu membuktikan kekecewaan mendalam Sutrisno Bachir dan para pendukungnya. Masalah ini agaknya cukup keras, menyakitkan, dan bisa membekas lama. Tetapi hal ini harus ditanggapi dengan hati bening oleh semua pihak agar mendapat solusi terbaik.
Kekecewaan
Masalah kedua, mengarahkan dukungan PAN ke SBY melahirkan banyak tafsir. Dalam buku Selamatkan Indonesia! Amien dikenal paling keras mengkritik kebijakan dan kelemahan SBY-JK. Disebabkan lebih mendengar HR yang sudah mendapat kepastian dan janji SBY untuk menjadi cawapresnya, Amien sudah membulatkan pilihan pada SBY. Tetapi sungguh inilah permainan politik berliku dan sulit ditebak. SBY ’’mengingkari’’ janjinya di satu pihak, dan Amien kecewa berat pada SBY di lain pihak.
Kekecewaan ini tidak terbendung, tetapi Boediono tampaknya harus mendapatkan tumpahannya. Pilihan (tumpahan kekecewaan) ini tidak salah, karena sebutan neolib pada Boediono, pada kenyataannya, didukung banyak partai serta pengamat politik ekonomi UGM seperti Revrisond Baswir (bagi Revrisond sendiri, semua capres itu neolib). Hal ini diperkuat dengan pernyataan Amien, ’’Saya mencontreng SBY, bukan Boediono!’’ Inilah yang membuat pernyataan Amien semakin menarik untuk ditafsirkan lebih jauh.
Masalah yang ketiga memunculkan dua tafsir besar di tubuh PAN dan memecah salah tafsir yang pertama, yaitu: (1) bagi yang mengimani pernyataan Amien bahwa Boediono adalah neolib secara otomatis akan menolak dukungan terhadap pencalonan SBY-Boediono dan mengalihkan dukungan kepada Mega-Prabowo atau Jusuf Kalla (JK)-Wiranto; (2) bagi yang ’’tidak setuju’’ dengan pernyataan Amien akan tetap mendukung duet SBY-Boediono, seperti dilakukan HR, dan kawan-kawan. Tanda petik itu untuk menjelaskan bahwa ketidaksetujuan HR tidak secara langsung, karena ia sudah tahu maksud hati Amien. HR telah menjadi tim sukses SBY.
Keduanya sama-sama benar, dalam bahasa hadis, yang pertama masuk dalam kelompok ahsanuhum fi tho’atihim (mereka paling baik dalam ketaatannya) dan yang kedua ahsanuhum fi fahmihim (mereka paling baik dalam pemahamannya).
Inilah sekelumit sikap politik Amien Rais yang selalu menarik untuk dibahas dan ditafsirkan. Bagi warga besar PAN, Muhammadiyah dan bangsa Indonesia, pernyataan-pernyataan dan pola berpikir Amien dapat menambah wawasan. Memang benar kata adagium, ‘’tidak ada musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi’’. Tetapi, dengan sepak terjangnya selama ini, Amien seolah-olah ingin mengatakan bahwa tidak ada kepentingan abadi, yang ada hanyalah penafsiran abadi.
Perolehan suara PAN pada Pemilu 2009 tidak beranjak naik dari hasil pemilu yang lalu. Selain menunjukkan bahwa ini juga bagian dari ‘’konsistensi’’ PAN, hal ini juga menunjukkan sebuah pendidikan politik yang baik bahwa terbukti PAN tetap representasi partai reformis, tidak mau melacurkan diri (sebagaimana yang pernah dilakukan oleh partai lain yang menjadikan Soeharto sebagai pahlawan), tidak mau mengumbar pujian berdalih partai rakyat dan bersih dari maksiat, padahal faktanya sebaliknya dan semata-mata demi meraih simpati dan mendulang suara sebanyak-banyaknya.
Sebagai partai reformis, PAN harus bersyukur mempunyai Amien Rais yang telah banyak berkontribusi bagi pendewasaan berpikir dan bersikap para kader dan simpatisannya. Meskipun tidak sedikit yang telah keluar dari partainya, tetapi ideologisasi dan idealisme Amien Rais akan tetap menyala.
Banyak pemikiran kritis dan pandangan strategis Amien yang dikutip dan dijalankan oleh orang lain baik secara terbuka maupun diam-diam. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mau menghargai dan meneruskan perjuangan tokoh panutannya. Cerdas berarti harus rasional dan dewasa dalam bersikap serta tidak lelah memberikan tafsir demi sebuah kebenaran.
*) Staf Pengajar Filsafat, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
DIarsipkan di bawah: Agama