JIHAD MELAWAN PROYEK

Standar

Sumber: Kolom MUTIARA RAMADAN, Bernas Jogja, Kamis, 11 Juli 2013, p. 1 & 6. (http://www.bernasjogja.co/index.php?content=news&cat=2596)

JIHAD MELAWAN PROYEK

Oleh: Robby H. Abror

            Tidak ada yang salah dengan kata proyek. Orang dapat memahaminya sebagai usaha bersama untuk tujuan dan waktu tertentu. Dalam membangun mimpi-mimpi besar, istilah proyek kadangkala inheren di dalamnya. Proyek pembangunan mal, jembatan, stadion, pendidikan, masjid, dan sebagainya. Semuanya terdengar wajar, bukan? Sebagai bahasa yang wajar, istilah proyek dapat digunakan dalam kerangka pemikiran apapun tergantung niatnya.

Niat setiap orang menentukan apakah langkahnya selaras dengan jalan agama atau tidak. Belakangan mata awam terbelalak dengan manusia-manusia proyek yang tersandung masalah. Mereka terdiri dari orang-orang yang tampak baik-baik saja, bahkan pada diri mereka melekat amanah yang berat. Mereka bisa saja sebagai pejabat, aktivis atau pemimpin partai, atau pun orang biasa yang menerima dana aliran gaib. Mereka terjebak dalam proyek ambisius demi kepentingan pribadi ataupun kelompok mereka.

Proyek yang awalnya merupakan usaha biasa, pada praktiknya, mengalami penyimpangan makna. Manusia-manusia proyek yang berwatak tauhid tiba-tiba hanyut dalam nafsu duniawi yang menyeret mereka ke dalam lingkaran setan. Mungkinkah orang-orang yang mengaku beriman, para penganut keyakinan agama monoteis, dapat terlibat dalam masalah itu? Kalau bahasa agama menyebut iman itu dapat naik dan turun, maka pertanyaan tersebut dapat dipahami, tetapi tidak dapat dibenarkan.

Memahami ungkapan “ustadz juga manusia” misalnya, dapat dimaknai sebagai pembenaran terhadap tindakan yang tidak patut, mewajarkan kesalahan sebagai bagian dari sifat manusia. Justru karena ia manusia, maka seharusnya didudukkan sama dan adil dengan yang lain di muka hukum.

Penyimpangan proyek dapat meredupkan cahaya iman. Karenanya, manusia-manusia tauhid hendaknya membentengi iman mereka dengan kejujuran dan kesadaran kritis. Saatnya berjihad melawan berbagai penyimpangan proyek. Berani mengatakan tidak pada penyimpangan dana proyek, menolak iming-iming yang dapat meruntuhkan kehidupan dan nama baik keluarga, serta menghindarkan diri dari setiap tindakan yang memalukan yang dapat menggerogoti integritas dan harga diri setiap manusia tauhid.

* Sekretaris Jurusan Filsafat Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

AGAMA JANGAN SAMPAI TERINDUSTRIALISASI

Standar

Sumber: Kedaulatan Rakyat, Jumat, 3 Mei 2013, p. 13.

AGAMA JANGAN SAMPAI TERINDUSTRIALISASI

YOGYA (KR). Agama seharusnya menjadi lentera dan pedoman bagi hidup manusia, namun kerap agama terindustrialisasi secara teknis dan organis sehingga melahirkan kebencian dan teror. Perdamaian akan muncul jika agama disajikan dalam bingkai keadilan.

Demikian antara lain yang mengemuka dari Seminar launching buku ‘Agama dan Perdamaian: Dari Potensi menuju Aksi’ yang diprakarsai Lembaga Lisafa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta di Gedung Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Rabu (1/5). Seminar menghadirkan beberapa pembicara, di antaranya Robby H Abror, Subhani Kusuma Dewi dan Ngatiyar.

Robby H Abror yang juga Sekretaris Jurusan Aqidah dan Filsafat menyatakan, agama jangan menjadi industri bagi lahirnya mesin-mesin kebencian dan teror, tetapi justru memproduksi jalan kepatuhan yang menubuh dalam iman yang sadar akan betapa berbahayanya arti kebencian dan pembangkangan atas nilai-nilai kemanusiaan.

Sedangkan Subhani Kusuma Dewi menyatakan, prasangka, kekerasan, mementingkan kepentingan sektarian dan kelompok, etnisitas di tingkat lokal dan nasional kini sedang marak terjadi di negeri ini. Karena itu, umat Islam Indonesia perlu mempelajari sejarah, budaya, dan kekayaan kearifan lokal yang ada di sekitar mereka demi mewujudkan spirit perdamaian. (*-5)-g.

920069_10200619434901829_1859480426_o

AGAMA RASTAFARIAN, EKSIS TANPA KEPATUHAN

Standar

Sumber: Kata pengantar untuk buku karya Rehan Sapto Rosada, Agama Rastafarian: Tuhan, Ganja, Rambut Gimbal dan Perlawanan (Yogyakarta: Komunitas Kembang Merak, 2012), hlm. v – viii.

KATA PENGANTAR

Agama Rastafarian, Eksis tanpa Kepatuhan

ROBBY H. ABROR

Bagi peradaban sebuah bangsa, perbudakan adalah pelecehan yang menyakitkan sama halnya dengan rasialisme yang diumbar dalam segala bentuknya yang penuh penyakit. Barat, dalam hal ini Eropa, menyumbang penyakit kronis yang mengejar dalam langkah membangun peradabannya, yaitu penjajahan dan perbudakan.

Eropa menebar teror, menjajah dan memperbudak. Tidak hanya itu, Eropa juga merampok kebebasan hak asasi manusia orang-orang Afrika. Bentuk kolonialisme klasik yang memabukkan negeri-negeri penjajah seperti Inggris, Perancis, Italia, Spanyol, Jerman, Belgia, Belanda dan Portugal untuk membagi kue Afrika dalam perampokan kemanusiaan dan kealaman yang paling mengerikan. Negeri-negeri penjajah hanya memikirkan perut egoisme mereka dalam upaya memperkaya Eropa. Sungguh representasi peradaban maju yang memalukan.

Ethiopia dan Jamaika seolah diselimuti mendung gelap diskriminasi yang dilakukan dengan kuasa brutal oleh orang-orang kulit putih. Kulit putih telah menghitamkan Afrika lebih gelap lagi dengan tindakan kesewenang-wenangan mereka. Rakyat Benua Afrika dipaksa berkorban demi peradaban para penjajah, dieksploitasi sebagai buruh kasar dengan penuh penderitaan. Tampaknya Eropa lebih senang membiarkan Afrika menderita lebih lama lagi.

Melihat realitas penjajahan itu, Marcus Mosiah Garvey sontak bergerak melawan patuh. Kebiadaban Eropa tidak dapat dibiarkan. Bagi pendeta Jamaika itu, lebih baik mengembalikan eksistensi Afrika untuk peradaban rakyat Afrika. Dalam komitmennya yang khas, ia tegaskan bahwa “Afrika untuk bangsa Afrika!” Afrika harus dibangunkan dari lelap historisnya. Kesadaran historis orang-orang Afrika sangat bermakna bagi masa depannya kelak.

Pada gilirannya, ajarannya berubah menjadi kekuatan yang berdaya mengubah. Ajarannya menjelma menjadi keyakinan baru, sebuah agama baru bagi orang-orang kulit hitam di Jamaika yang kelak akan dikenal orang sebagai Rastafaria. Penjelmaan agama baru ini bukan tanpa sebab, wajah getir penuh luka dan hidup penuh penderitaan adalah bukti nyata bahwa sudah saatnya dibutuhkan keberanian historis untuk menjadikan agama itu sebagai spirit pengubah nasib rakyat Afrika.

Rakyat Afrika harus berani mengambil sikap, melawan kepatuhan terhadap orang-orang kulit putih Eropa. Orang-orang kulit hitam menolak patuh pada penjajahan dan bergabung dalam keyakinan barunya Rastafaria. Pada saatnya Rastafarian yakin bahwa menuhankan seorang Haile Selassie I adalah keniscayaan. Berdasarkan sejarah, Haile sebelum menjadi kaisar bernama Ras Tafari, sebuah nama yang kelak akan mengorbitkan gerakan Rastafarian mendunia. Meskipun pada faktanya, Ras Tafari emoh menjadi Tuhan, ia tetap dituhankan oleh Kaum Rastafarian.

Rastafarian mengajarkan pentingnya eksodus bersama-sama balik ke Afrika, kampung halaman tercinta. Mereka harus mempertahankan harga diri orang-orang kulit hitam melawan dominasi dan hegemoni orang-orang kulit putih. Kekecewaan dan penderitaan yang begitu lama telah menyebabkan budak-budak Ethiopia untuk bergabung meneguhkan keyakinan mereka dalam sebuah agama baru, agama Rastafarian yang mereka yakini akan dapat mengubah mimpi buruk mereka selama ini. Sebuah keyakinan baru yang pernah diakui Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pada 1996. Agama Rastafarian telah memberikan semangat baru bagi pergerakan kaum Rastafarian untuk menolak patuh, melawan diskriminasi ras dan segala bentuk praktik perbudakan yang telah lama mereka alami.

Kaum Rastafarian juga mendapatkan semangat baru dengan kehadiran Bob Marley yang menyatakan bangga menjadi Rastafari. Bob Marley, seseorang yang terkenal karena telah mempopulerkan musik reggae, juga menolak patuh pada Gereja. Baginya, kapitalisme dan komunisme sudah selesai, kini saatnya untuk Rastafarian. Lebih jauh, ia menolak patuh pada Vatikan, pusat Katolik yang menurutnya wajib untuk dimusuhi dan dilawan. Rastafarian dengan demikian menjadi agama dalam perkembangan orang- orang kulit hitam di Jamaika. Keyakinan baru yang bergerak melalui imigrasi di dunia. Baginya lagi, “hidup itu harus dekat dengan alam”. Kaum Rastafarian sangat identik dengan rambut gimbal, ganja (marijuana) dan makanan ital. Mereka memperkukuh keyakinan barunya itu dengan identitas kaum tertindas yang khas. Agama barunya itu menjadi tempat bagi pelarian dan perlindungan. Bob Marley juga membenci Kristen dan menyerukan semua orang untuk melakukan hal yang sama. Baginya, Kristen adalah agama yang gemar memperbudak dan membiarkan praktik-praktik perbudaan. Oleh sebab itu, ia menegaskan bahwa Roma harus menjadi musuh bagi semua orang.

Bagi kaum Rastafarian, musik reggae melambangkan semangat anti kolonialisme, juga merupakan alat politik untuk menyiarkan ajaran dan pengaruh mereka serta memperluas kebiasaan menghisap ganja dan rambut gimbal sebagai gaya hidup. Mereka kelak juga akan terbagi dalam keyakinan yang terbelah, tetap menuhankan Haile Selassie I atau tidak.

Seperti sebuah olok-olok terhadap agama tertentu, kaum Rastafarian biasa menghisap ganja sambil membaca Injil. Kebiasaan baru mereka dalam Gereja. Cara tersebut mereka tempuh untuk lebih mendekatkan diri pada Yang Kuasa. Ganja adalah representasi bagi ramuan kebijaksanaan. Mereka juga mengharamkan diri mereka untuk menyisir rambut mereka dan memilih untuk tidak memotong rambut agar terbentuk rambut gimbal (dreadlocks) yang menjadi ciri khas mereka. Tidak hanya itu, mereka juga haram meminum minuman keras/alkohol dan dilarang makan babi. Mereka sepakat bahwa makanan itu harus ital, yakni bersih, murni dan alami.

Dalam konteks antropologis, sangat memungkinkan tesis Geertz bahwa agama sebagai fakta kultural, bagian dari sistem kebudayaan. Meskipun kelak akan diperdebatkan eksistensi dan keabsahan agama Rastafarian itu. Karena sepintas dapat digambarkan bahwa Rastafarian = Kristen + Yahudi, terbentuk dalam keyakinan baru yang reduksionistik dan lebih sederhana. Kaum Rastafarian dekat dengan alam yang menjadi keyakinan dan budaya khas Afrika, seolah menegaskan eksistensinya untuk membenci modernitas yang khas Eropa.

Pada kenyataannya, agama baru kaum Rastafarian itu dianggap skeptis, meskipun mengusung spirit pembebasan. Tak lain karena agama itu hanyalah sebentuk sinkretisme belaka antara keyakinan Kristen dengan Yahudi. Lagi pula mereka tidak mempunyai wahyu otentik atau kitab suci sendiri sebagai pegangan hidup. Sebaliknya mereka tetap membaca Injil James dan tidak dapat mengelak dari tuduhan sebagai hanya sebuah sekte saja bagi Kristen. Mereka menolak Kristen, tetapi diam-diam sembahyang di Gereja dengan caranya yang baru.

Gerakan Rastafarian sebenarnya hanya ingin menolak patuh pada Eropa. Kepada benua yang selama ini menindas mereka, memperbudak orang- orang kulit hitam. Bagi kaum Rastafarian, orang-orang kulit putih tidak dapat dimaafkan selama menghisap manusia-manusia Afrika beserta alamnya demi memperkaya Eropa. Kristen yang terkenal dengan agama cinta kasih, bagi kaum Rastafarian, sebutan itu hanyalah topeng belaka untuk menjustifikasi penjajahan terhadap Afrika.

Akhirnya, selamat menikmati buku yang ditulis oleh Rehan Sapto Rosada ini yang telah mencoba memperkenalkan gerakan Rastafarian dengan melibatkan tilikan filsafat, budaya dan agama yang cukup kritis, menarik, dan mencerahkan. Selamat membaca!

RHA

Yogyakarta, 12 Agustus 2011

NARCISSISM FOR ALL !

Standar

Sumber: Buletin Filsafat EDANIS Edisi “Mahasiswa Postmodern”, Januari 2012, hlm. 15-16.

Filsafat Narsis untuk Semua!

Robby H. Abror, S.Ag., M.Hum.

Ketika seseorang melukis bujur sangkar putih di atas kanvas putih disebut sebagai sebuah karya yang menyajikan “keagungan yang tak tergambarkan”, bagaimana menurutmu? Gila! Apanya yang agung?!, barangkali begitu jawabannya. Tetapi inilah faktanya, karya lukis itu memang dibuat oleh seorang seniman Rusia bernama Kasimir Malevich pada 1915 dan diakui dengan gigih oleh filsuf postmodern Prancis, Jean-Francois Lyotard. Sebuah pengakuan yang dapat mensubjektifikasi keindahan yang tak terhadirkan dalam apa yang disebutnya sebagai ‘yang sublim’. Inti maknanya, bahwa setiap orang dapat membayangkan apapun secara tak terhingga, tetapi ia tak kuasa untuk menggambarkannya.

Saya menyebut pelukis itu memiliki ‘narsisisme metodis’. Sifat narsis yang ada dalam setiap jiwa, sebagian atau berlebihan, sebentuk perasaan cinta terhadap diri sendiri yang memantulkan karya yang agung, yang tak terhadirkan. Narsisisme metodis melebihi dari sekadar omong kosong, gaya murahan atau nihilisme. Ia tidak terjebak pada patologi intelektual bahkan lebih dari itu, ada spirit di dalam jiwanya untuk selalu melahirkan karya-karya yang agung. Bahkan ada yang percaya bahwa segala yang diludahkan seniman adalah seni, segala sesuatu begitu berarti, tidak ada yang sia-sia.

Kerjakan saja apapun yang kau mau, kau akan menemukan pekerjaan yang baik untuk dirimu sendiri! Posmodernisme memberi kebebasan yang bertanggung jawab untuk melepaskan jiwa-jiwa yang tertindas secara metodologis ataupun terbelenggu secara eksistensial. Setiap jiwa harus berkarya, meskipun tanpa aturan, sebenarnya ia sedang membangun aturan yang baru bagi dirinya sendiri. Demikian pula bagi seorang mahasiswa, ada dentuman semangat di dalam hatinya yang setiap saat menggelegarkan ruh perubahan dalam apa yang saya sebut sebagai ‘kesadaran eksistensial’.

Mahasiswa harus bergerak dalam diamnya dan terus berusaha mengayun sejauh langkahnya. Ia tidak boleh diam-pasif dan membebek saja. Setiap jiwa pasti narsis! Aku narsis, maka aku ada. Tapi tunggu dulu, bukan narsis sontoloyo, narsis yang cuma dijadikan pelet untuk memikat lawan jenis (baca: womanizer / wedokan-bhs Jw), bukan pula narsis yang tak tahu diri, yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Yang dibutuhkan mahasiswa adalah narsis yang eksplosif, berdaya ledak secara gentle, lemah lembut, baik hati dan berbudi bahasa yang baik serta berintensitas energetik secara smart.

Narsisisme sudah menjadi budaya, sudah terlanjur, apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur. Presiden, rektor, dekan, ketua jurusan, ketua RT apalagi mahasiswa suka dengan yang namanya narsis. Bahkan diamnya atau kerendahan hatinya, dapat dibaca sebagai bentuk narsis yang lain. Kau lihat gayanya, kau amati foto-foto yang terpasang di dinding-dinding kantor atau jejaring sosialnya, kau rasakan caranya berbicara dan bergaul, semuanya memantulkan narsisisme bukan? Narsisisme buat semua!

Seorang filsuf memiliki ‘teknologi narsisisme’ yang sulit ditandingi oleh ilmuwan manapun. Narsisisme metodisnya dapat menampar muka alam dan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dengan sengaja agar murka. Kemurkaan epistemologis yang ditunggu-tunggu oleh panggung wacana global untuk mengisi diskusi jagad yang monoton, definitif dan membosankan, diharapkan dapat menggairahkan kembali kejumudan berpikir dan berkarya. Seorang filsuf berbicara dengan ‘komunikasi metafisik’ untuk merangkai makna hidup dan menyemai kebaikan di laboratorium jagad raya.

Komunikasi Metafisik

Mengapa dunia enggan bertanya kepada para filsuf? Apa salahnya sehingga ditinggal pergi oleh anak-anak ilmu pengetahuan untuk mencari jalan dan nafkahnya sendiri-sendiri? “Dasar filsuf sukanya yang aneh-aneh!,” banyak orang bilang begitu. Belum tau dia, kalau tidak aneh namanya bukan filsuf tau! Tapi aneh yang bagaimana? Aneh yang memahami ontologi alam dan realitas. Bersinnya seorang filsuf itu adalah sapaan alamiah terhadap alam dan realitas. Ingat, tidak seorang ilmuwan pun yang begitu peduli terhadap kekonyolan semacam itu.

Alat narsisisme metodis adalah komunikasi metafisik, sebentuk jembatan peradaban bagi budaya kritis yang selalu melahirkan karya-karya yang tak terhadirkan untuk tetap eksis, untuk tetap terjaga sampai kapanpun. Agar kau tak tertipu bahwa apa yang menurut orang banyak disebut sebagai indah itu sebenarnya penuh kepalsuan, relatif. Kau dapat menciptakannya sendiri dalam alam sadarmu bahwa dunia ini benar-benar bersahabat denganmu. Bercengkeramalah dengannya selama kau suka, sampai kebosananmu merasa lelah untuk bosan. Berkaryalah!

Dengan komunikasi metafisik, seorang filsuf dapat menjadi mesin pencari (search engine) setangguh Google, Yahoo, MSN, AOL atau Altavista, yang dapat diandalkan. Mungkinkah? Hanya Tuhan yang tahu. Bukan. Tuhan dan filsuf saja yang tahu. Mengapa? Karena filsuf mempunyai naluri intelektual sekaligus spiritual dalam apa yang disebut oleh Dean Hamer (2006) sebagai ‘gen Tuhan’. DNA-nya filsuf itu sudah sangat profetis. Ucapkan ‘salah’ kepada mereka yang menuduh para filsuf sebagai perongrong kebenaran! Justru para filsuf mencintai kebijaksanaan demi tegaknya kebenaran.

Dalam komunikasi metafisik, para filsuf menebar virus kritisisme dan tafsir kerinduan dan mengabaikan segala bentuk kutukan dan fitnah yang tidak ilmiah. Narsisisme metodis menyapa semua anak filsafat untuk hidup lebih bergairah dan berdaya guna. Lewat tubuh sosialnya, para filsuf mengomunikasikan eksistensinya kepada realitas dalam bahasa intelektual yang ramah dan santun. Para filsuf bukan gelandangan yang memacetkan nalar-nalar kreatif, bukan pula sampah masyarakat yang bikin gaduh keadaban publik.

Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat (AF) punya komitmen yang kuat untuk mentradisikan narsisisme metodis dengan bertanggung jawab dan elegan. Tugas filsuf adalah membangun sejarah yang baik bagi generasi berikutnya dan mewariskan komunikasi metafisik kepada budaya postmodern untuk merayakan perbedaan atas nama kemanusiaan. Jangan mati gaya! Teruslah berkarya!

Dosen Aqidah dan Filsafat dan Ketua Laboratorium Filsafat “Hikmah”, F-USAPI, UIN Sunan Kalijaga.

MUSA ASY’ARIE, FILSUF GAUL DAN KEMAUAN ‘SEMIOSIS’-NYA YANG MENGGODA

Standar

Sumber: Robby H. Abror, “Musa Asy’arie, Filsuf Gaul dan Kemauan ‘Semiosis’-nya yang Menggoda” dalam Pak Musa Guru Kami: Sebuah Persembahan untuk 60 Tahun Prof Dr Musa Asy’arie, Fahruddin Faiz (editor), (Yogyakarta: LeSFI, 2011), hlm. 103-106.

Musa Asy’arie, Filsuf Gaul dan

Kemauan ‘Semiosis’-nya yang Menggoda

Tidak susah menggambarkan sosok filsuf yang satu ini. Sorot matanya yang tidak tajam alias kalem. Kulit sawo matang. Penampilan yang serba ‘anak muda banget’, seolah ‘tak pernah sirna meskipun di usianya menjelang 60 tahun: kemeja slim dan celana jeans membungkus bahasa tubuhnya lebih mengesankan lagi. Gaya berjalannya yang santai dan terkesan cuek. Tutur katanya yang blak-blakan. Sketsa sepintas kilas yang dapat menggambarkan filsuf gaul yang kini tengah menjadi ‘nakhoda’ di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Arah UIN ditentukan oleh sang nakhoda. Menakhodai kapal UIN dengan gaya gaul model anak muda tentu bukan perkara gampang. Selain harus menuntaskan pekerjaan rumah (PR) yang ditinggalkan oleh pendahulunya, Prof Amin Abdullah, ia juga harus mampu melakukan perubahan dan sudah barangtentu mewujudkan hasil yang lebih baik atau minimal sama dari pendahulunya. Mampukah ia melaksanakan tugasnya? Kita tunggu saja! Tetapi itu bukan ranah yang sedang kita perbincangkan di sini. Biarlah hal itu menjadi bagian dari ijtihadnya untuk melajukan kapal UIN lebih kencang lagi ke arah yang dimaui sang nakhoda.

Menjadi nakhoda (rektor) tentu persoalan yang berat, tetapi justru di balik kepemimpinannya terbersit pesan-pesan kemauan ‘semiosis’ yang menarik, khususnya ketika dikaitkan dengan penampilannya yang khas, yaitu gaya gaulnya. Pendek kata, masing-masing nakhoda patstinya memiliki gayanya masing-masing. Menarik membicarakan cara bagaimana Prof Musa Asy’arie menjalani dan memaknai hidup dengan gaya gaulnya. Seolah ia ingin mengatakan bahwa “aku berbicara dengan gayaku”, seperti apa yang pernah dikatakan oleh Umberto Eco, “I speak through my cloth” (Aku berbicara lewat pakaianku). Melalui pakaian atau dalam konteks ini gaya gaulnya, Prof Musa sepertinya ingin mengajak siapapun yang ia temui untuk ‘terpanggil’ ikut menikmati atau memaknai gaya gaulnya, minimal mau tahu apa yang ia mau.

Kemauan ‘semiosis’ menubuh di dalam praksis kesehariannya, seolah ia ingin memfilsafati kehidupan dengan ringan dan tenang dalam tilikanku yang awam. Aku mencoba meraba kemauannya itu: Ia mau orang lain memahami kemauannya. Ia mau kemauannya dimengerti. Ia hanya mau menjadi dirinya sendiri yang berkemauan. Ia mau bebas. Ia mau dunia tahu bahwa kemauannya lebih dari apa yang orang lain sangkakan terhadapnya. Ia mau menjadi apa adanya. Ia mau orang lain mau mendengarnya. Ia mau membisikkan kepada langit bahwa kemauannya adalah pantulan dari kerja kerasnya selama ini. Ia mau mengubah dunia dari dirinya sendiri. Ia mau bekerja untuk mengubah nasibnya. Ia mau berubah dalam ketetapannya. Ia mau menetapkan perubahan yang biasa ia lakukan. Ia mau melakukannya sekali lagi dalam banyak ruang hidup yang tersisa. Ia mau banyak berbuat dengan mimpi-mimpinya. Ia mau bermimpi lebih bebas agar setiap tarikan nafasnya bermakna buat sesama. Ia hanya mau bahwa setiap kemauannya itu bermakna buat orang lain, apa adanya.

Memahami kemauannya adalah sebentuk tindakan yang terkesan ‘kurang kerjaan’, padahal sebenarnya ya memang betul demikian. Tetapi kesan tersebut menjadi bermakna tatkala aku mengalami momen penting menjadi asistennya—mengajar Filsafat Islam—beberapa tahun sebelum akhirnya eksistensiku diakui juga oleh negara (baca: jadi PNS). Sosok Prof Musa memang apa adanya, kesan yang pertama kali kutangkap saat menjadi mahasiswanya di S1 (masih IAIN belum menjadi UIN). Waktu terus berjalan, sampai akhirnya kita menjadi kolega, teman diskusi yang baik sesama dosen filsafat. Sebagai seorang teman, ia tetaplah guru kami yang menyenangkan, setidaknya buat orang-orang yang sudah memahami bahasa tubuh dan gaya gaulnya.

Bagi orang awam, membaca pikiran dan kemauannya secara sepintas mungkin akan banyak mengalami ‘penderitaan hermeneutik’ dan ‘kekacauan semantik’. Begitu mendengar isi tutur katanya, kesan ‘saru/tabu’ langsung melekat pada dirinya. Mengeluh padanya, hanya akan menambah beban penderitaan dan kekacauan itu. Cara terbaik bergaul dengannya adalah dengan sikap yang sejajar: merespons dengan canda dan tidak terlalu serius menyikapi serbuan celetukannya yang menjurus ‘porno’. Hanya butuh sedikit pembiasaan filosofis untuk ‘menaklukkan’ language game sang profesor yang mempunyai segudang pengalaman pekerjaan yang beragam.

Itulah Prof Musa, filsuf gaul yang meniti hidupnya dengan santai dan tanpa beban. Sebenarnya, di balik gaya gaulnya itu ia tetap konsisten menyuarakan pesan-pesan moral yang dirujuknya pada Al-Quran dan Hadits. Hal itu dapat ditemukan dalam berbagai refleksi kritisnya yang tertuang di pelbagai artikel popular yang dimuat terutama di SKH Solopos dan Kompas. Jika Anda mendapati dalam dirinya semacam ‘split personality’, antara peneguhan kritis Qur’aniknya di satu sisi dan gaya gaul praktik kesehariannya di sisi lain yang tidak nyambung, jangan tanyakan padanya. Sebab ia akan menyerbumu dengan godaan filosofisnya yang mengocok perut. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, “aku berlindung dari godaan filsofisnya yang terkekeh-kekeh!”

Robby H. Abror, S.Ag., M.Hum.

Alumnus AF Angkatan 1998. Dosen Aqidah dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga. Tinggal di Perumnas Minomartani, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta.

MENGKRITISI POLITISASI PENETAPAN 1 SYAWWAL 1432 H

Standar

Sumber: Suara Muhammadiyah No.19 Edisi 1-15 Oktober 2011

Rubrik Sohifah

Mengkritisi Politisasi Penetapan 1 Syawwal

Oleh Robby H. Abror

Keputusan Sidang Itsbat Pemerintah RI yang menetapkan 1 Syawwal 1432 H jatuh pada hari Rabu, 31 Agustus 2011 berbeda dengan Muhammadiyah yang memutuskan jauh hari sebelumnya untuk berlebaran pada Selasa, 30 Agustus 2011. Keputusan Pemerintah RI melalui Menteri Agama, Suryadharma Ali, disinyalir telah terjebak pada aroma politisasi. Pemerintah terlalu dalam ikut campur dalam wilayah keagamaan. Menurut Prof Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Pemerintah RI telah bersikap inkonstitusional karena telah melanggar UUD 1945 Pasal 29.

Sidang Itsbat hanya memberi kesempatan dan menjustifikasi kepentingan Pemerintah. Ada laporan sudah melihat hilal tetapi ditolak. Pendapat tersebut dilontarkan Prof Din (30/8) yang menilai bahwa pemerintah lebih memihak pada suatu ormas Islam tertentu daripada Muhammadiyah. Dalam menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1432 H, suara Muhammadiyah sama sekali tidak didengar. tidak mencerminkan sikap netral karena tidak mengakomodir perhitungan dengan menggunakan metode hisab seperti yang dilakukan Muhammadiyah. Padahal hampir seluruh Negara Islam di dunia menggunakan perhitungan semacam ini. Sebaiknya, Pemerintah tidak ikut menetapkan Idul Fitri, melainkan hanya menetapkan hari liburnya saja.

Sidang Itsbat Pemerintah RI itu ternyata ditertawakan dunia, dalam hal ini Negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI), karena dianggap nyleneh sendiri telah memutuskan untuk melaksanakan Idul Fitri pada hari Rabu (31/8) dan menyelisihi keputusan negara-negara Arab yang berlebaran hari Selasa, 30 Agustus 2011 sebagaimana keputusan Muhammadiyah, seperti disampaikan oleh Dr. Djoko Susilo (30/8), Duta Besar RI untuk Switzerland dan Liechtenstein.

Faktanya, hampir semua negara di kawasan Eropa dan Timur Tengah menggelar shalat Idul Fitri pada hari Selasa (30/8). Agar diperoleh keputusan yang lebih akurat, mereka menggunakan metode hisab dan diperkuat dengan rukyatul hilal dalam memutuskan 1 Syawwal. Djoko, mantan anggota DPR RI dari PAN itu, mengingatkan bahwa persoalan mengintip hilal seharusnya menggunakan teknologi. Selaras dengan apa yang ditegaskan Prof Din, Djoko berharap bahwa di masa depan Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) bersikap netral dalam penentuan 1 Syawwal. Posisi pemerintah idealnya sebagai fasilitator saja, tidak perlu campur tangan, dan apalagi memberikan stempel berupa keputusan. Keputusan tentang 1 Syawwal sebainya diurus MUI dan ormas-ormas Islam saja tanpa intervensi birokrat.

Kontroversi

Seperti telah banyak diberitakan di media, bahwa ada beberapa kesaksian yang menyatakan telah melihat hilal pada Senin Sore (29/8), yakni tim rukyat Kemenag di Pantai Kartini, Jepara dan di Cakung, Jakarta Timur. Dengan kesaksian tersebut berarti pada hari Selasa (30/8) seharusnya sudah masuk 1 Syawwal. Hasil pantauan tim rukyat tersebut sangat sesuai dengan tim rukyat yang dilakukan di negara-negara Arab. Sebagaimana telah diketahui bahwa Arab Saudi memastikan Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal 1432 H jatuh pada Selasa, (30/8).

Selain Arab Saudi, beberapa Negara yang telah mengumumkan 1 Syawwal jatuh pada Selasa (30/8) adalah Mesir, Uni Emirat Arab, dan Qatar, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Umat Islam di Indonesia yang berlebaran Selasa (30/8) adalah Muhammadiyah, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jama’ah Anshorut Tauhid, Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Jum’iyat An-Najat, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Pondok Pesantren Modern Gontor, dan sebagian warga Nahdlatul Ulama (NU) yang mengakui rukyat (PWNU DKI).

Sedangkan yang berlebaran pada Rabu (31/8) mengikuti keputusan pemerintah adalah  Nahdlatul Ulama (NU), Persis, Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Ustadz Arifin Ilham, pengasuh jama’ah zikir nasional yang pernah sekolah TK Aisyiah dan SD Muhammadiyah di Banjarmasin ini, dalam wawancaranya dengan Tv One, menyatakan ikut ulil amri, pemerintah. Alasan yang sama juga banyak digunakan oleh mereka yang berlebaran pada Rabu (31/8).

Kontroversi benar-benar terjadi, keputusan 1 Syawwal pada Selasa membuat Muhammadiyah seolah-olah sendirian menghadapi keputusan berbeda yang diambil oleh Pemerintah bersama ormas lain dalam Sidang Itsbat. Bahkan perhitungan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyebutkan bakal muncul dua versi perayaan 1 Syawwal 1432 H pada tahun ini.

Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawwal 1432 H pada Selasa (30/8) berdasarkan konsep wujudul hilal atau hisab (perhitungan). Sedangkan NU mengikuti kebijakan pemerintah berlebaran pada Rabu (31/8). Lapan memprediksi mekanisme imkanu rukyah (visibilitas hilal) yang dilakukan dalam Sidang Itsbat Senin (29/8) tidak akan melihat hilal, sehingga puasa Ramadan digenapkan 30 hari. Prof Thomas Djamaluddin, peneliti senior LAPAN mengatakan (26/8) bahwa pihaknya memprediksi jika tinggi hilal pada 29 Agustus kurang dari 2 derajat, bahkan menurutnya di beberapa kawasan di Indonesia, tinggi hilal lebih rendah lagi, sehingga mustahil terlihat saat Sidang Itsbat tersebut.

Thomas bahkan berani menyalahkan pihak-pihak yang mengaku telah melihat hilal, berdasarkan pengalamannya bahwa tinggi hilal yang bisa terlihat itu rata-rata 4 derajat ke atas, sesuatu yang bakal dijadikan dasar untuk mematenkan opsinya. Ia bahkan meminta agar metode hisab yang digunakan Muhammadiyah dalam menentukan awal bulan Hijriah diubah karena sudah usang.

Pernyataannya tidak hanya menyakiti warga Muhammadiyah, tetapi juga umat Islam lain yang berlebaran berbeda dengan pemerintah. Apalagi, faktanya bahwa hampir 50 negara berlebaran Selasa (30/8), hanya 4 negara yang Rabu (31/8). Saleh P. Daulay, Ketum PP Pemuda Muhammadiyah yang menjadi imam di Swiss khawatir wibawa dan kredibilitas pemerintah rusak karena telah “menyewa” Thomas sebagai konsultan dalam Sidang Itsbat itu.

Pendapat Prof Thomas terasa sepihak, dangkal dan tidak mencerminkan dialog terbuka demi obyektivitas ilmu pengetahuan yang netral. Seharusnya dia berdiskusi dengan para astronom dunia yang mayoritas telah memutuskan 1 Syawwal pada hari Selasa (30/8) agar tidak arogan dan merasa paling benar.

Bersikap Kritis

Pada Senin (12/9) malam bulan pernama mencapai puncaknya. Jika dihitung mundur 15 hari ke belakang, maka Senin, 29 Agustus 2011 mestinya sudah memasuki 1 Syawwal, dan itu berarti pada Selasa (30/8) sudah harus berlebaran. Demikian penjelasan dari Mustofa B.N., pengamat Indonesian Crime Analyst Forum, lewat rilisnya di blogger Kompasiana sebagaimana juga diberitakan di beberapa stasiun televisi nasional pada Senin (12/9) malam.

Pengamatannya atas bulan purnama ini menurutnya dapat dijadikan patokan untuk menemukan 1 Syawwal. Alasannya, purnama pasti terjadi pada pertengahan bulan atau tanggal 15 setiap bulannya.  Karena purnama terjadi hari Senin, 12 September 2011, maka otomatis 15 hari yang lalu adalah tanggal 1 Syawal, yaitu pada 29 Agustus 2011 sore, karena permulaan kalender Hijriyah selalu dimulai sore hari. Tetapi karena kalender Masehi dimulai pada pagi hari, maka sholat Idul Fitri dapat dilaksanakan pada pagi harinya, sedangkan malam harinya untuk bertakbiran.

Melalui pengamatan tersebut seharusnya PP Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tadjidnya bersikap cepat dengan mengambil peran untuk memberikan pembelajaran moral bagi pemerintah dan bangsa ini tentang fakta tersebut sekaligus memberikan kritik yang baik buat pemerintah agar tidak lagi mempolitisir ranah agama demi kepentingan ormas Islam tertentu.

K.H. Salahuddin Wahid (10/9), salah seorang tokoh NU, bahkan tidak segan-segan mengkritisi pemerintah tentang lambatnya pengumuman penentuan 1 Syawwal yakni sekitar pukul 20.30 WIB, yang berarti pukul 22.30 di Papua. Menurutnya, kalau para ahli astronomi dan para ulama yakin bahwa hilal tidak mungkin terlihat pada 29/8, tanpa menunggu hasil ikhtiar melihat hilal pun, sudah bisa diumumkan bahwa 1 Syawwal jatuh pada Rabu (31/8). Ia meminta pemerintah melalui ahli astronomi untuk mengonfirmasi jika ada pihak-pihak yang memang telah melihat hilal agar diakui kesaksiannya sebagai kebenaran dan menyarankan untuk mengkaji pertimbangan tentang mengapa pihak Malaysia, Brunei, Singapura dan negara-negara di Timur Tengah dan Eropa yang memutuskan 1 Syawal sama dengan Muhammadiyah yakni pada Selasa (30/8).

Perbedaan penentuan 1 Syawwal sebenarnya adalah hal biasa, tetapi maknanya jadi lain ketika pemerintah terlalu ikut campur serta bersikap otoriter dan sepihak dalam keputusan tersebut. Menyadari akan kenyataan itu, Muhammadiyah seharusnya cepat mengambil inisiatif dan tindakan konkret yakni memasyarakatkan pentingnya diklat ilmu hisab atau meredesain kurikulum di pesantren dan sekolah-sekolahnya untuk memasukkan pelajaran tentang hisab sejak dini. Dengan demikian akan terbentuk akar pengetahuan dan ideologi yang kuat, sebagai usaha yang terus-menerus untuk dapat melahirkan para ahli di bidang hisab atau pun falak di kalangan Muhammadiyah.

*) Dosen dan Kepala Laboratorium Filsafat, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

ZIARAH PERADABAN ISLAM DI EROPA

Standar

Sumber: KORAN TEMPO, Minggu 7 Agustus 2011 (hlm. A11) atau http://epaper.korantempo.com/PUBLICATIONS/KT/KT/2011/08/07/index.shtml

RESENSI BUKU

Ziarah Peradaban Islam di Eropa

Lewat novel sejarah yang ditulis oleh Hanum dan Rangga ini membukakan kesadaran dan eksistensi umat Islam, bahwa sebagai minoritas Muslim di Eropa, hidup bukan perkara mudah. Bagi muslimah berjilbab, mencari pekerjaan di Austria, negara dan pintu masuk di mana penulis tinggal dan menjelajah Eropa selama 3 tahun, tidak saja harus diperoleh dengan kesungguhan dan kepandaian, tetapi benar-benar membutuhkan mental yang kuat melawan emosi dan sakit hati untuk selalu siap ditolak dan dipinggirkan. Perjuangan hidup yang berat dan menyayat hati sudah terlanjur menjadi kisah biasa yang memaksa nalar kita untuk memakluminya.

Perbedaan keyakinan menyumbang permakluman itu, kisah tragis dan penuh luka sejarah yang tak mungkin dihapus begitu saja dengan panorama elok kota Winasebagai tebusannya. Penulis mengisahkan fakta historis yang mengesankan tentang perjalanan hidup mereka selama berada di Benua Eropa. Menetap di Wina, Austria dengan segenggam keberanian historis, buah pertemanan yang tak akan pernah lekang dan persahabatan yang sangat mendalam bersama Fatma, teman muslimahnya dari Turki yang dikenalnya di kelas bahasa Jerman.

Fatma berhasil membangunkan penulis dari tidur historisnya. Dari bukit Kahlenberg di Wina, penulis mulai menyadari betapa pesan historis dari ungkapan hati sahabatnya itu akan menjadi pondasi awal untuk memahami Islam lebih dalam. Dari ketinggian bukit itu, terlihat masjid terbesar di Wina yang kelak akan mengantarkannya untuk mengenal Imam Hashim, pemimpin Vienna Islamic Center.

Sebelum sampai pada Imam itu, tepatnya bermula dari roti croissant, iman penulis mulai terasa perih. Ternyata roti itu untuk merayakan kekalahan Turki di Wina. Beberapa turis sengaja memakan roti itu dengan rakus untuk merendahkan Islam. Roti itu adalah lambang bendera Turki yang bisa dimakan. Memakan croissant berarti memakan Islam (hlm. 39).

Tidak berhenti di situ, perjumpaan iman secara historis dengan sejarah Fatma yang sangat personal sampai pada Kara Mustafa Pasha, panglima perang Dinasti Turki, khalifah Usmaniyah atau Ottoman. Gesekan iman dan sejarah dimulai dari lukisan yang buruk terhadap diri panglima itu yang dilukis dalam ekspresi perendahan diri, pelecehan yang brutal atas harga diri orang Turki. Bagi Eropa, Kara Mustafa adalah penakluk dan penjahat (hlm. 79). Ein war ein Morder, dia adalah seorang pembunuh.

Dari Wina, ziarah berlanjut ke Paris bersama Marion. Kisah drama Voltaire tentang Seid alias Zaid Ibnu Harithah mulai memancing ketegangan iman kembali. Perasaan terluka oleh kisah bohong filsuf ateis—yang bernama asli Francois-Marie Arouet—dalam mengarang fragmen drama tentang Nabi Muhammad saw. Meskipun setelah tiga puluh tahun kemudian filsuf Prancis itu menulis tentang Islam sebagai agama toleran dan mengagumi Muhammad. Perubahan cara pandangnya dipengaruhi oleh Averroes alias Ibnu Rusyd, melalui minat bacanya terhadap karya-karyadari filsuf muslim taat dari Cordoba, Andalusia itu.

Momen penting juga terdapat di sepanjang ziarah ke Cordoba dan Granada di Spanyol. Mengunjungi Mezquita, masjid terbesar pada masanya, situs sejarah Islam yang saat ini telah berubah menjadi gereja kathedral terbesar di Cordoba. Di kota ini terdapat patung Ibnu Rusyd berukuran 7 kaki. Filsuf muslim terkemuka yang mengenalkan the double truth doctrine, dua kebenaran yang tak terpisahkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Averroes yang sangat terkenal itu disebut sebagai Bapak Renaisans orang Eropa (hlm. 280-1). Selanjutnya, ke Granada bertemu Al-Hambra, kompleks istana dan benteng kekhalifahan Bani Umayyah yang berdiri megah.

Akhirnya, sampailah ziarah ke Istanbul, Turki, bertemu dengan sahabatnya yang telah lama menghilang, Fatma Pasha. Bersamanya mencapai Camberlitas, kompleks situs sejarah Turki yang meliputi tiga bangunan bersejarah: Hagia Sophia, Blue mosque, dan Topkapi Museum (hlm. 329). Fatma dan Hanum bersahabat sangat baik dan menyimpan kisah lalu mereka dalam perjumpaan yang tak tertahankan dan sangat menyentuh di Istanbul.

Perjalanan panjang untuk menemukan kebenaran telah tertuntaskan. Penulis yakin bahwa pencarian ke titik awal akan kembali ke titik nol, dan dia menemukannya di Padang Arafah sambil berharap akan bersinarnya kembali peradaban Islam. Alur novel yang sangat mengalir dan tenang, membawa pembaca ikut tersentuh dan tercerahkan. Novel ini menyumbang pengetahuan historis yang indah tentang Islam di Eropa, panduan bagi umat Islam untuk menemukan jejak-jejak kejayaan peradabannya di masa seribu tahun kegelapan Eropa.

(Robby H. Abror, Dosen Filsafat UIN Yogyakarta)

Judul buku: 99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa

Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

Penerbit: Gramedia, Jakarta

Cetakan: I, 2011

Tebal: 412 halaman