Monthly Archives: Agustus 2009

TUDINGAN SALAH KEPADA MUHAMMADIYAH

Standar

W A C A N A, SUARA MERDEKA

Selasa, 18 Agustus 2009

Tudingan Salah kepada Muhammadiyah

Oleh Robby H. Abror *)

Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia ini, kembali dituding sebagai “mesin pengeram atau penetas” akar radikalisme di Indonesia lantaran tuduhan yang menimpa Muhzahri. Kebetulan Muhzahri atau Muh. Djahri adalah warga dan anggota aktif Muhammadiyah yang pernah mengajar di SMP Muhammadiyah Kedu.

Ia pernah ditangkap dan ditahan Polda Jateng (7/8) kemudian dilepas lagi (14/8) setelah dinyatakan tidak terbukti secara sengaja menyembunyikan tersangka teroris. Ia mengaku sedang berada di sawah ketika penggerebekan itu terjadi. Dirinya hanya dititipi seorang tamu (yang kemudian diketahui bernama Ibrohim) oleh keponakannya kakak-beradik Aris Susanto dan Indra Arif Hermawan (yang tertembak di Kebun Jagung) dan menjamunya sebagaimana kebiasaan warga setempat.

Rumahnya yang terletak di Dusun Beji, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung rusak parah setelah menjadi sasaran penyergapan (8/8) Densus 88/Antiteror karena diduga kuat sebagai tempat persembunyian gembong teroris Noordin M. Top yang belakangan diketahui adalah Ibrohim, penata bunga (florist) yang menjadi jenderal serangan dalam peledakan bom (17/7) di Hotel J.W. Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta.

Dalam kaitannya dengan Muhzahri—dan sebelumnya Amrozi (juga berasal dari keluarga Muhammadiyah dan telah dihukum mati), ideologi Muhammadiyah sayup-sayup dituduh sehaluan dengan Wahabi dan fundamentalis. Seiring dengan munculnya pernyataan keras A.M. Hendropriyono (17/7), mantan Kepala BIN, yang menyimpulkan bahwa kaum ekstremis Islam yang terlibat dalam jaringan teroris mancanegara sebenarnya berasal dari dua aliran Islam garis keras, yaitu Wahabi dan Ikhwanul Muslimin.

Berkenaan dengan hal itu, setidaknya ada dua pertanyaan mendasar. Pertama, apakah ideologi Muhammadiyah sama dengan Wahabi? Dan kedua, apakah Muhammadiyah identik dengan terorisme?

Dari Wahabi ke Salafi

Sebutan ”esktremis” yang digunakan A.M. Hendropiyono dapat dideskripsikan dengan beberapa istilah lain seperti fundamentalis, militan, radikal, fanatik, jahidis dan islamis. Mereka inilah yang kemudian sering disebut kaum puritan. Kaum Wahabi mengawali kebangkitan kaum puritan dan memengaruhi setiap gerakan puritan di dunia Islam. Taliban dan al-Qaeda adalah contoh representasi puritanisme yang sangat kuat dipengaruhi oleh pemikiran Wahabi.

Pada abad ke-18, Muhammad ibn ’Abd al-Wahhab membangun dasar-dasar teologi Wahabi dengan tujuan membebaskan Islam dari berbagai praktek inovasi bid’ah seperti tasawuf, tawassul, dan ajaran Syiah. Tetapi di jaman modern ini, Wahabi menyebar ke dunia muslim di bawah bendera Salafi yang berdiri pada abad ke-19. Kaum Salafi digerakkan oleh para reformis muslim terkemuka seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridha, serta pengaruh pemikiran Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.

Sampai awal abad ke-20, kaum Wahabi menyebut dirinya kaum Salafi. Tetapi sejak tahun 1970-an istilah itu tidak berhubungan lagi dengan keyakinan Wahabi, karena Salafi berbeda dengan Wahabi salah satunya karena Salafi tidak membenci tasawuf. Kaum intelektual Salafi juga lebih maju dan lebih terbuka daripada Wahabi misalnya dalam praktek talfiq, yaitu memadukan beragam opini dari masa lalu untuk memunculkan pendekatan yang lebih baru terhadap pelbagai masalah yang muncul.

”Family Resemblances”

Ada dua pokok pemikiran penting K.H. Ahmad Dahlan dalam mendirikan dan membangun ideologi Muhammadiyah. Pertama, Muhammadiyah sebagai gerakan purifikasi atau pemurnian, yaitu kembali kepada al-Quran dan Sunnah Rasul saw (ruju’ ila al-Quran wa al-Sunnah). Kedua, Muhammadiyah sebagai gerakan dinamisasi, tajdid atau pembaruan, yaitu bergerak dalam berbagai aktivitas sosial seperti mendirikan amal-amal usaha, rumah sakit, panti asuhan, pesantren, sekolah dan universitas.

Berdasarkan pada bentuk analitika bahasa, Ludwig Wittgenstein (1953) menggunakan istilah ”kemiripan-kemiripan keluarga” (family resemblances) untuk menunjukkan bahwa segala sesuatu yang berbeda pasti memiliki kesamaan/kemiripan atau sebaliknya. Mengacu pada model berpikir Wittgensteinian, Muhammadiyah dapat dikatakan sama atau ”punya kemiripan” dengan Wahabi dan Salafi dalam pokok pemikiran yang pertama. Semua gerakan Islam yang mengaku ahlus sunnah wal jama’ah sudah barangtentu mendasarkan pada pemikiran (dan ideologi) yang sama dengan Muhammadiyah. Inilah doktrin Islam yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Selain itu, data historis menunjukkan bahwa K.H. Ahmad Dahlan juga pernah berguru ke Mekkah kepada beberapa ulama terkemuka tentang ilmu-ilmu keagamaan seperti fikih, hadis, dan ilmu falak. Beliau juga membaca buku-buku penting para pengusung ide-ide pambaruan dalam Islam di antaranya: Risalah Tauhid karya Syekh Muhammad Abduh, Al-Tawassul wa al-washilah Ibnu Taimiyah, dan Tafsir al-Manar Rasyid Ridla.

Substansi dan orientasi ideologi Muhammadiyah aksentuasinya pada pokok pemikiran yang kedua, yaitu sebagai gerakan sosial. Inilah bentuk realisasi dari semangat (Surat) al-Ma’un yang sering didengungkan K.H. Ahmad Dahlan.

Ideologi Muhammadiyah sendiri telah dirumuskan dalam Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup (MKCH) Muhammadiyah. Muhammadiyah bersikap inklusif dan berpendirian bahwa pintu ijtihad senantiasa terbuka. Dari sini jelaslah bahwa Muhammadiyah lebih mewakili kelompok moderat, istilah yang merepresentasikan sikap modernis, progresif, toleran dan reformis. Pendek kata, Muhammadiyah berbeda dengan Wahabi.

Ideologi Teror

Kekerasan atas nama Tuhan tidak pernah dibenarkan oleh ajaran agama manapun. Islam tidak mensahkan perbuatan bengis untuk melenyapkan nyawa manusia. Allah swt. jelas-jelas menentang setiap aksi pembunuhan atas manusia. Bagi-Nya, membunuh satu orang sama halnya membunuh seluruh umat manusia (Q.S. Al-Maidah: 32).

Tindakan bom bunuh diri tidak dapat dikatakan jihad. Sehingga istilah “calon pengantin” yang dipakai Noordin M. Top untuk setiap pelaku pembom yang diiming-imingi mimpi teologis-imajinatif Noordin dengan bidadari-bidadari di surga hanyalah sebagai justifikasi atas aksi kekerasan yang menyesatkan.

Ideologi teror menyimpang dari ajaran Islam. Doktrin ideologi ini membutakan mata hati kaum teroris karena meyakini bahwa orang-orang kafir itu halal darahnya tanpa membedakan apakah non-muslim itu termasuk kafir harbi (yang boleh diperangi) atau kafir zimmi (yang harus dihormati).

Ideologi teror sangat bertentangan dengan Islam dan Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid. Muhammadiyah menekankan “jihad sosial”, sikap berani hidup membela nilai-nilai kemanusiaan dengan pelbagai pelayanan dan kritik sosial yang mencerahkan, bukan dengan teror dan kekerasan.

Robby H. Abror, S.Ag., M.Hum., Peserta Program Doktor Kajian Budaya dan Media UGM, Yogyakarta.