Monthly Archives: Juli 2010

SEMARAKKAN HUT KE-50 USHULUDDIN

Standar

FAKULTAS USHULUDDIN PENTAS SENI

YOGYA (KR)—Perayaan hari jadi Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga yang ke-50 akan diisi dengan berbagai macam kegiatan. Seperti seminar internasional, bazaar dan pameran karya alumni, pementasan seni budaya Kyai kanjeng dan reuni akbar alumni Fakultas Ushuluddin.

“Perayaan ulang tahun emas ini rencananya akan dilaksanakan pada 31 Juli sampai 1 Agustus mendatang. Rencananya dalam seminar internasional tersebut panitia akan menghadirkan pembicara Prof. Mark R. Woodward (Arizona State University, USA), Prof. Dr. Amin Abdullah, Prof. Dr. Musa Asyari (UIN Sunan Kalijaga), Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (UIN Syarif Hidayatullah), Prof. Dr. Machasin (Dirjen Diktis Kementerian Agama) dan Prof. Dr. Uswatun hasanah (Universitas Indonesia),” papar Robby H. Abror, S.Ag., M.Hum., panitia ulang tahun ke-50 Fakultas Ushuluddin didampingi Drs. Singgih Basuki, M.A. (PD II Fakultas Ushuluddin), Sudin, M.Hum. (Dosen Aqidah dan Filsafat), Nurdiyah, M.H. (Kabag TU), Warleni (Kasubag Umum) dan Muryana (Bendahara) saat bersilaturahmi ke redaksi KR yang diterima Wapemred Drs. Ahmad Luthfie, M.A., Kamis (22/7). (Ria)-a

Sumber: SKH Kedaulatan Rakyat (KR), Jum’at, 23 Juli 2010, hlm.2.

Iklan

BEDAH BUKU PAK AR

Standar

MUHAMMADIYAH RINDU TOKOH YANG MENGAYOMI

Yogyakarta-Kedaulatan Rakyat. Berawal dari rasa prihatin atas kepemimpinan di tingkat nasional hingga akar rumpur yang carut marut, menjadikan Moch. Faried Cahyono dan Yuliantoro Purwowiyadi memberanikan diri untuk menulis buku otobiografi AR Fachrudin dengan judul ‘Pak AR, Sufi yang Memimpin Muhammadiyah’.

Menurut keduanya, sosok AR Fachrudin adalah pemimpin yang cerdas, jujur, sederhana dalam hidup, amanah dan berani. Yang tidak kalah penting adalah sifatnya yang mengayomi rakyat kecil dan mau bergaul dengan siapa pun, menjadikan sosoknya menarik untuk diulas.

“Menulis kisah hidup Pak AR adalah pengalaman menarik. Ada nilai perjuangan seorang pemimpin, dan pemikiran tentang pendidikan, sosial dan kemasyarakatan yang layak diungkap,” ujar Faried saat bedah buku di Aula Joglo KR Lantai 2, Jalan P. Mangkubumi No.40-46 Yogyakarta, Kamis (1/7).

Menurut Faried, sosok Pak AR juga seorang penulis yang produktif, khutbah-khutbahnya dan kejadian-kejadian dalam hidupnya memiliki nilai penting untuk pembelajaran kepemimpinan bagi generasi muda. Kiprahnya dalam Muhammadiyah juga cukup brilian.

Karena itu melalui tulisan mereka berharap masyarakat bisa menggali nilai-nilai hidup Pak AR. “Dalam konteks Muhammadiyah, kami harap dokumen tokoh ini dan gambaran kisah hidupnya bisa menjadi bahan ajar untuk anak-anak, untuk pendidikan Muhammadiyah yang makin baik,” harapnya.

Robby H. Abror, S.Ag., M.Hum, dosen Akidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengatakan, Pak AR adalah sosok teladan Muhammadiyah yang patut menjadi panutan. Kiprahnya dalam kehidupan bermasyarakat dan bersosial patut diacungi jempol. Melalui buku ini diharapkan masyarakat bisa belajar banyak tentang pemikirannya. Apalagi, dalam konteks kehidupan saat ini, di mana krisis kepemimpinan melanda negeri ini, kehadiran buku tentang tokoh-tokoh seperti Pak AR Fachrudin ini dapat memperkaya khazanah pemikiran. (*)-o

Sumber: SKH Kedaulatan Rakyat, Sabtu, 3 Juli 2010.

DEMOKRASI

Standar
POLITIK KARTEL SINGKIRKAN RAKYAT

YOGYAKARTA, KOMPAS—Politik Kartel yang menjadi format perpolitikan nasional saat ini menyingkirkan rakyat dari proses politik. Politik kartel perlahan-lahan akan membunuh demokrasi.

Hal tersebut terungkap dalam seminar “Membedah Politik Kartel di Indonesia” yang diadakan Senat Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, di Teatrikal Perpustakaan Kampus UIN Yogyakarta, Rabu (14/7).

Pengamat parlemen sekaligus dosen di Universitas Gadjah Mada, Sigit Pamungkas, yang menjadi pembicara dalam seminar itu mengatakan, interaksi partai-partai politik pascareformasi 1998 menciptakan pola hubungan yang bersifat sentripetal (memusat). Partai berlomba-lomba membentuk koalisi seperti kartel untuk menikmati kekuasaan.

Persaingan politik antarpartai yang diasumsikan dalam sistem multipartai pun tak terjadi. “Yang terjadi adalah partai bekerja sama untuk mengamankan kepentingan-kepentingan politik mereka,” ujar Sigit. “Akibatnya, rakyat dirugikan karena tersingkirkan dari proses politik,” katanya lagi.

Pembicara lainnya, dosen Akidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Robby H. Abror, mengatakan, politik kartel merupakan “penyakit” atau “musibah” bagi demokrasi. “Politik kartel sama dengan politik ‘dagang sapi’. Sangat berbahaya dan dapat memperlebar pintu-pintu korupsi,” ujarnya.

Pasalnya, politik model itu dinilai lebih mendekati alam ekonomi ketimbang politik itu sendiri. Para elite berkumpul mengusung nafsu politik yang sama dan merajut kepentingan yang saling menguntungkan dalam kerangka persetujuan politis. Robby menambahkan, politik kartel perlahan tetapi pasti akan membunuh demokrasi di Indonesia. (ENG)

Sumber: Kompas, Kamis, 15 Juli 2010, hlm. 2.