Monthly Archives: Agustus 2010

MENYAMBUT HARLAH KE-50 FAKULTAS USHULUDDIN

Standar

Sumber: Kedaulatan Rakyat, Sabtu, 31 Juli 2010

 

REFORMULASI STUDI AGAMA UNTUK HARMONI KEMANUSIAAN

Oleh: Robby H. Abror

 

Buruk sangka dapat menjadi penyebab pasang-surut hubungan antar umat beragama. Tak ayal, agama (-agama) seringkali dituduh sebagai biangkeladi konflik hanya karena sebenarnya telah salah dipahami dan didekati. Kesalahpahaman ‘pendekatan’ terhadap agama sesungguhnya merupakan akar konflik. Merawat cara pandang yang salah, misalnya dengan melakukan pendekatan politis terhadap pemahaman parsial dalam memahami dan menyebarkan ajaran agama adalah basisnya kekeliruan itu sendiri.

Wajah kekeliruan itu dapat dilihat dari cara menggeser wilayah otoritas ilahiah ke bawah kuasa manusia yang larut mengatasnamakan Tuhan demi kepentingan politisnya. ‘Aqidah’ politik sangat berbahaya dan dapat berakibat fatal karena memaksakan dakwah dalam pendekatan yang sempit. Konsekuensinya, potret buram kekerasan atas nama Tuhan tak lagi dapat dibendung dan berkembang menjadi tradisi turun-temurun yang tak bertepi.

Fenomena kekerasan atas nama agama telah menorehkan luka sejarah yang dalam bagi bangsa yang majemuk ini. Bangsa yang seharusnya menebar kedamaian dan toleransi, tetapi nasionalismenya dirobek-robek oleh egoisme dan pikiran yang jumud. Di sinilah diperlukan tempat yang tepat untuk memahami arti perbedaan sudut pandang. Tempat yang bersedia dan mau membaca serta mengkaji lebih dalam akar permasalahan dari segala sumber konflik antar keyakinan.

Dunia membutuhkan sebuah fakultas yang telaten dan sabar bergaul dengan basis ajaran agama-agama demi sebuah harmoni, dan Fakultas Ushuluddin adalah jawabannya.

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa Fakultas Ushuluddin telah menjadi pusat pengkajian agama-agama dan rujukan paling fundamental bagi kajian agama-agama. Ketekunan dan keuletan kaum intelektual dan para sarjana dalam mendalami dan mengkaji agama telah melahirkan karya-karya yang sangat bermanfaat bagi umat Islam dan umat manusia. Dengan demikian fakultas ini juga telah banyak melahirkan ulama dan intelektual yang sangat penting eksistensinya bagi bangsa Indonesia.

 

Jantung Peradaban

 

Saat ini nama fakultas ini telah berubah menjadi ‘Fakultas Ushuluddin’, Studi Agama dan Pemikiran Islam’. Perubahan ini tidak mengubah substansi gerakan sosial dan aksi keilmuan yang telah diembannya selama setengah abad. Perubahan tersebut justru menegaskan bahwa fakultas ini layak disebut sebagai ‘jantung peradaban’ UIN Sunan Kalijaga yang sesungguhnya. Di bawah kepemimpinan dekan Dr Sekar Ayu Aryani, fakultas ini terasa lebih kritis dan humanis.

Prestasi di bidang kajian agama-agama dan Islamic Studies juga luar biasa. Karya-karya agung di bidang akidah dan filsafat, perbandingan agama, tafsir hadits dan sosiologi agama telah membanjiri pustaka nasional dan internasional. Setiap usaha membaca Islam dan agama-agama di Indonesia, para peneliti tak pernah abai terhadap karya-karya para sarjana Ushuluddin sebagai referensi wajib.

Sentuhan Prof Mukti Ali menjadikan UIN Sunan Kalijaga masyhur di kancah keilmuan, khususnya kajian perbandingan agama di tanah air. Karyanya, Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia (1988) menempatkannya sebagai tokoh perintis paling penting di bidangnya. Prof Simuh mengentalkan akhlak tasawuf dalam dinamika ilmu keislaman.

Selanjutnya berpuncak pada Prof Amin Abdullah yang telah mengubah secara radikal dan sistematis Institut Agama Islam Negeri (IAIN) bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Prof Amin telah berhasil membawa studi agama-agama yang selama ini dianggap ‘marjinal’ menjadi lebih ‘berwibawa’. Dengan model integrasi dan interkoneksinya, beliau telah mampu menunjukkan bahwa ilmu-ilmu agama dapat saling menyapa dengan ilmu-ilmu  umum lainnya, karena pada hakikatnya mereka adalah satu. Bahwa ilmu itu bermanfaat bagi maslahat kemanusiaan.

Sekarang, Prof Musa Asy’arie diharapkan akan memberi warna filosofis dan tradisi keilmuan yang lebih signifikan dalam kepemimpinan UIN berikutnya.

Beberapa kali rektor IAIN (sekarang UIN Sunan Kalijaga)  berasal dari Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam. Sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa fakultas ini juga menjadi pelopor sekaligus pencetak para pemimpin. Di luar UIN, para alumni Ushuluddin juga banyak yang bercokol di puncak pimpinan beberapa ormas Islam, seperti Muhammadiyah dan NU.

Menjawab Tantangan

Memasuki usianya yang sudah lima puluh tahun ini, Fakultas Ushuluddin memantapkan langkah untuk selalu teguh dalam memelihara tradisi keilmuan Islam dan kajian agama-agama. Harus diakui bahwa benturan kepentingan dalam wajah Islam Indonesia baru-baru ini, wacana fundamentalisme-liberalisme, sedikit banyak mempengaruhi posisi Ushuluddin dalam penjajakan dan penelusuran minat. Antusiasme sempat terimbas berbagai kepentingan justru di luar ranah akademik.

Isu-isu diskriminatif dan sentimental yang berupaya memojokkan Ushuluddin sebagai sumber ‘kekisruhan aqidah’ sebenarnya sangat tidak beralasan. Karena sumber ‘pendangkalan’ sejenis dapat berasal dari lorong-lorong hampa spiritualitas di fakultas/universitas mana pun. Karenanya, fakultas ini sudah berkomitmen untuk dapat berdiri di  tengah-tengah serta berpihak kepada kebenaran dan keadilan, berlandaskan para Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw.

Dua landasan tersebut mutlak mendasari tradisi keilmuan atau ‘keushuluddinan’. Tradisi keilmuan itu dapat berkembang karena didasarkan pada objektivisme. Islam itu agama yang ‘objektif’.

Ketika Islam disebut sebagai agama pembebasan, sangat tepat karena ingin berusaha membebaskan diri dari sestiap perilaku yang tidak objektif (baca: kemungkaran). Maka kajian keislaman harus senantiasa berlandaskan pada objektivitas.

Ajaran Islam tidak pernah salah. Yang seringkali salah justru pemahaman dan praktik menyimpang terhadap ajaran tersebut. Sehingga harus dibedakan antara doktrin dan realitas. Doktrin Islam harus ditaati dan dipatuhi oleh para pemeluknya. Lain halnya dengan realitas pemeluk doktrin tersebut. Realitas sosial umat Islam senantiasa terbuka untuk ditafsirkan, karena menampilkan multi wajah alamiah sebagai umat manusia biasa yang bisa salah.

Karenanya, kesalahan wajib diluruskan. Kebenaran harus diperlakukan dengan cara-cara yang benar. Kebaikan harus diurus dengan langkah-langkah yang baik. Inilah sebenarnya hakikat ‘amar ma’ruf nahi munkar’.

Menuju seabad usianya, Fakultas Ushuluddin harus senantiasa ikhlas berdzikir dan berani berpikir (sapere aude) untuk berpartisipasi membantu masyarakat dalam memecahkan berbagai  persoalan agama dan dunia, memberikan solusi bagi terciptanya kehidupan berbangsa yang lebih baik serta berkomitmen mendalami agama demi harmoni kemanusiaan. Semoga! q – g. (1312 A-2010).

*) Robby H. Abror, S.Ag., M.Hum., Dosen Akidah dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta; Peserta Program Doktor Kajian Budaya dan Media, UGM.