Monthly Archives: Juli 2011

MUHAMMADIYAH DAN LORONG GELAP MORALITAS

Standar

Sumber: Suara Muhammadiyah No.13 Edisi 1-15 Juli 2011, hlm. 52-53.

RUBRIK WAWASAN MUHAMMADIYAH

MUHAMMADIYAH DAN LORONG GELAP MORALITAS

Oleh Robby H Abror

Sejak didirikan lebih seabad yang lalu, Muhammadiyah memberikan harapan mulia kepada segenap warga Persyarikatan khususnya dan umat Islam di Indonesia umumnya. Majunya dunia pendidikan, bidang kesehatan dan ranah kemanusiaan tak luput dari peran besarnya. Sejalan dengan itu, segudang prestasi sudah ditorehkan dan nama-nama besar lahir dan bermunculan untuk menyokong dan meningkatkan harapan-harapan tersebut.

Fakta itulah yang akan terus membangkitkan dan membangun rasa optimisme dan kebanggaan warga dan para kader Persyarikatan. Sejarah juga telah membuktikan partisipasi aktif Muhammadiyah dalam kebangunan spirit nasionalisme. Keberadaannya memastikan bahwa kelestarian jejak tradisi rasionalitas senantiasa dipupuk, sikap toleran terus dibina serta hidup saling menghargai dan menghormati tetap dikembangkan Muhammadiyah.

Semua kisah nyata itu sungguh manis dan indah. Tetapi adakah yang berminat mendengarkan kisah-kisah nyata yang sebaliknya, sungguh pahit dan buruk? Barangkali akan lebih banyak yang menutupkan telapak tangannya ke telinganya masing-masing sembari mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Kalau memang demikian, tentusaja kita berharap pasti ada juga takdir yang lain, yang mau berpihak pada kebenaran dan keadilan, dua pilar moralitas dalam agama manapun, yang tengah tertatih di pelataran Muhammadiyah sendiri.

Kita tetap berharap bahwa ada takdir yang mau membukakan telinga sekaligus hati yang jernih orang-orang yang mau mendengarkan dan menyimak dengan hati bening tentang fakta lain yang, jika tidak disadari lebih dini dan ditindaklanjuti, justru akan membangkitkan pesimisme dan kekecewaan warga persyarikatan. Tulisan yang terbatas ini sekadar mencoba introspeksi tentang lima hal penting tentang “lorong gelap moralitas” dalam tubuh Persyarikatan.

     Pertama, nyaring di luar, nyepi di dalam. Perasaan bangga dapat menyelimuti kita, tatkala pucuk pimpinan Persyarikatan bersuara lantang menyoal buruknya moralitas elit politik dan penguasa dengan menyebutkan kesalahan-kesalahannya dan soal kinerja pemerintahannya. Itu dulu, ketika media tidak begitu berpihak pada rakyatnya. Sekarang butuh sisi yang lain, yang seringkali diabaikan. Kelantangan dan keberanian menyuarakan tegaknya moralitas “ke luar”, itu baru satu sisi. Perlu sisi yang lain, yaitu mengarahkan energi positif tersebut “ke dalam”. Ini yang belum nyata dilakukan dengan tegas dan sungguh-sungguh.

Ketika jari telunjuk kita menuding ke lawan bicara, bersamaan dengan itu empat jari lainnya menuding kepada diri kita sendiri. Ini filosofi klasik yang baik. Seharusnya memang demikian, lantang dan berani menyuarakan tegaknya moralitas ke luar sekaligus ke dalam. Ini sangat penting, sesuatu yang kelihatannya sudah mulai ditinggalkan dalam tradisi kita. Spirit “amar makruf nahi munkar” sejatinya dimaknai dua arah sekaligus. Jika tidak begitu, maka akan mengingkari hati nurani. Pupus sudah akal sehat. Selamat tinggal “tradisi rasionalitas” yang telah dibanggakan dan disebutkan di muka.

     Kedua, KKN dan aji mumpung. Singkat kata, “haus kekuasaan”. Sudah memberikan prestasi tentu saja sebuah kebanggaan dan patut dihargai. Hampir di seluruh daerah menyimpan sejarah keberhasilannya masing-masing. Kenyataan ini tidak lepas dari peran dan kerja keras seorang pemimpin dan anak buahnya untuk mewujudkan mimpi-mimpi positif dengan hasil-hasil yang menggembirakan. Yang menjadi soal adalah kemauan untuk memimpin tidak dibarengi dengan kemauan untuk dipimpin.

Ketika seseorang telah naik menjadi pemimpin, seharusnya menyadari bahwa suatu saat akan kembali turun untuk dipimpin oleh orang lain. Inilah pentingnya proses pergantian kepemimpinan atau regenerasi yang baik. Tetapi manakala prestasi demi prestasi telah ditorehkan atas jasa-jasanya selama ini, menjadi tidak mudah baginya untuk melepas begitu saja jabatan itu. Akar masalahnya di sini.

Selain masalah kepemimpinan juga muncul soal KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). Falsafah “aji mumpung” bisa dijadikan landasan bagi pemimpin yang melihat kesempatan emas sebagai potensi. Tetapi ini potensi yang buruk, karena kesempatan itu justru dipergunakan untuk ditanami benih-benih KKN baru (Kesempatan Keluargaku/Koncoku Naik). Kalau sudah demikian, muncul pula niat machiavelian, “Tujuan menghalalkan segala cara” (al-ghayah tubarriru al-wasilah): menyikut teman sendiri, menyikat bukan miliknya dan merampok kesempatan yang seharusnya dapat diamanahkan kepada orang lain yang lebih kompeten, mengorbitkan orang-orang yang bukan kader tulen, memanipulasi data, meminta fasilitas tertentu serta menyalahgunakan wewenang.

     Ketiga, solusi kekeluargaan sebagai upaya justifikasi. Suka atau tidak suka ini sebuah kenyataan. Setiap ada masalah dipecahkan secara kekeluargaan. Suatu tindakan yang baik, sudah seharusnya memang begitu. Tetapi sekarang motif dan bobot masalahnya bisa berbeda-beda dan kadangkala dilakukan berulang-ulang atau mengulangi kembali kesalahannya. Ini masalahnya, bobot kekeluargaan menjadi timpang tatkala beban masalahnya sudah kelewat batas. Solusi kekeluargaan perlu ditinjau ulang agar kesalahan tidak terulang dan berbilang. Perlu tindakan yang lebih tegas dan berkeadilan dalam memutuskan masalah yang sudah terbilang “kelewatan”.

     Keempat, mata melek, hati merem. Kepalsuan adalah musuh semua orang. Kecerdasan dan kealiman (sifat keulamaan) seharusnya meniadakan dan menjauhi kepalsuan. Kesadaran palsu, dalam sejarah, dimusuhi oleh Mazhab Kritis, mengapa di sini justru dikembangkan? Kesadaran yang “emoh” mengajak seseorang kepada kebenaran dan keadilan. Seharusnya, seorang pemimpin tahu makna terang pijar moralitas, tetapi dirinya sendiri yang mematikan energinya dalam kepura-puraan yang memalukan.

Kebaikan hati terpancar di dalam laku dan bahasa tubuhnya. Kendatipun perilaku itu sendiri seringkali menipu. Kepalsuan adalah penipuan moral yang sungguh-sungguh yang sebaiknya dilenyapkan. Kepalsuan mengandung semua unsur yang tidak nyata, tidak benar-benar, dan sudah barangtentu bohong. Senyumnya tidak tulus karena dikelola berdasarkan pasar, konsumen atau jamaahnya. Kehalusan tutur katanya bagai pisau tajam di tangan penjahat, halus tetapi sangat mematikan. Keputusannya sepertinya menyorotkan kebijaksanaan tetapi sebaliknya, bermakna bencana buat orang lain yang tidak disenangi. Singkat kata, kepalsuan ini dalam bahasa agama disebut “kemunafikan”. Memelihara kemunafikan berarti diam-diam menghancurkan Persyarikatan.

Kelima, menebar ancaman untuk melanggengkan kekuasaan dan kepentingan. Apalagi kata yang tepat selain “premanisme”? Istilah itu mutlak berbahaya, apalagi jika menjadi kata kerja. Jika terdapat  secuil sikap itu dalam hati seorang pemimpin atau pengurus persyarikatan, tinggal menunggu waktu yang ditakdirkan atas kerusakan yang nyata.

Setidaknya lima hal tersebut dapat mewakili kompleksitas masalah yang mengemuka, tidak jelas ujung pangkalnya dan akhirnya tenggelam begitu saja. Menjaga sejarah yang sudah baik adalah kebaikan. Tetapi, kebaikan harus disebarkan dengan cara-cara yang baik agar sejarah kembali menorehkan kebaikan untuk Muhammadiyah. Dibutuhkan niat, kepedulian dan kemauan keras yang baik untuk menyelamatkan Muhammadiyah. Hanya dengan cara demikian, masa depan moralitas Muhammadiyah akan tetap terang. Semoga.

*) Penulis adalah Dosen Aqidah dan Filsafat; Kepala Laboratorium Filsafat (LABFIL) Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Iklan