Monthly Archives: Agustus 2011

ZIARAH PERADABAN ISLAM DI EROPA

Standar

Sumber: KORAN TEMPO, Minggu 7 Agustus 2011 (hlm. A11) atau http://epaper.korantempo.com/PUBLICATIONS/KT/KT/2011/08/07/index.shtml

RESENSI BUKU

Ziarah Peradaban Islam di Eropa

Lewat novel sejarah yang ditulis oleh Hanum dan Rangga ini membukakan kesadaran dan eksistensi umat Islam, bahwa sebagai minoritas Muslim di Eropa, hidup bukan perkara mudah. Bagi muslimah berjilbab, mencari pekerjaan di Austria, negara dan pintu masuk di mana penulis tinggal dan menjelajah Eropa selama 3 tahun, tidak saja harus diperoleh dengan kesungguhan dan kepandaian, tetapi benar-benar membutuhkan mental yang kuat melawan emosi dan sakit hati untuk selalu siap ditolak dan dipinggirkan. Perjuangan hidup yang berat dan menyayat hati sudah terlanjur menjadi kisah biasa yang memaksa nalar kita untuk memakluminya.

Perbedaan keyakinan menyumbang permakluman itu, kisah tragis dan penuh luka sejarah yang tak mungkin dihapus begitu saja dengan panorama elok kota Winasebagai tebusannya. Penulis mengisahkan fakta historis yang mengesankan tentang perjalanan hidup mereka selama berada di Benua Eropa. Menetap di Wina, Austria dengan segenggam keberanian historis, buah pertemanan yang tak akan pernah lekang dan persahabatan yang sangat mendalam bersama Fatma, teman muslimahnya dari Turki yang dikenalnya di kelas bahasa Jerman.

Fatma berhasil membangunkan penulis dari tidur historisnya. Dari bukit Kahlenberg di Wina, penulis mulai menyadari betapa pesan historis dari ungkapan hati sahabatnya itu akan menjadi pondasi awal untuk memahami Islam lebih dalam. Dari ketinggian bukit itu, terlihat masjid terbesar di Wina yang kelak akan mengantarkannya untuk mengenal Imam Hashim, pemimpin Vienna Islamic Center.

Sebelum sampai pada Imam itu, tepatnya bermula dari roti croissant, iman penulis mulai terasa perih. Ternyata roti itu untuk merayakan kekalahan Turki di Wina. Beberapa turis sengaja memakan roti itu dengan rakus untuk merendahkan Islam. Roti itu adalah lambang bendera Turki yang bisa dimakan. Memakan croissant berarti memakan Islam (hlm. 39).

Tidak berhenti di situ, perjumpaan iman secara historis dengan sejarah Fatma yang sangat personal sampai pada Kara Mustafa Pasha, panglima perang Dinasti Turki, khalifah Usmaniyah atau Ottoman. Gesekan iman dan sejarah dimulai dari lukisan yang buruk terhadap diri panglima itu yang dilukis dalam ekspresi perendahan diri, pelecehan yang brutal atas harga diri orang Turki. Bagi Eropa, Kara Mustafa adalah penakluk dan penjahat (hlm. 79). Ein war ein Morder, dia adalah seorang pembunuh.

Dari Wina, ziarah berlanjut ke Paris bersama Marion. Kisah drama Voltaire tentang Seid alias Zaid Ibnu Harithah mulai memancing ketegangan iman kembali. Perasaan terluka oleh kisah bohong filsuf ateis—yang bernama asli Francois-Marie Arouet—dalam mengarang fragmen drama tentang Nabi Muhammad saw. Meskipun setelah tiga puluh tahun kemudian filsuf Prancis itu menulis tentang Islam sebagai agama toleran dan mengagumi Muhammad. Perubahan cara pandangnya dipengaruhi oleh Averroes alias Ibnu Rusyd, melalui minat bacanya terhadap karya-karyadari filsuf muslim taat dari Cordoba, Andalusia itu.

Momen penting juga terdapat di sepanjang ziarah ke Cordoba dan Granada di Spanyol. Mengunjungi Mezquita, masjid terbesar pada masanya, situs sejarah Islam yang saat ini telah berubah menjadi gereja kathedral terbesar di Cordoba. Di kota ini terdapat patung Ibnu Rusyd berukuran 7 kaki. Filsuf muslim terkemuka yang mengenalkan the double truth doctrine, dua kebenaran yang tak terpisahkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Averroes yang sangat terkenal itu disebut sebagai Bapak Renaisans orang Eropa (hlm. 280-1). Selanjutnya, ke Granada bertemu Al-Hambra, kompleks istana dan benteng kekhalifahan Bani Umayyah yang berdiri megah.

Akhirnya, sampailah ziarah ke Istanbul, Turki, bertemu dengan sahabatnya yang telah lama menghilang, Fatma Pasha. Bersamanya mencapai Camberlitas, kompleks situs sejarah Turki yang meliputi tiga bangunan bersejarah: Hagia Sophia, Blue mosque, dan Topkapi Museum (hlm. 329). Fatma dan Hanum bersahabat sangat baik dan menyimpan kisah lalu mereka dalam perjumpaan yang tak tertahankan dan sangat menyentuh di Istanbul.

Perjalanan panjang untuk menemukan kebenaran telah tertuntaskan. Penulis yakin bahwa pencarian ke titik awal akan kembali ke titik nol, dan dia menemukannya di Padang Arafah sambil berharap akan bersinarnya kembali peradaban Islam. Alur novel yang sangat mengalir dan tenang, membawa pembaca ikut tersentuh dan tercerahkan. Novel ini menyumbang pengetahuan historis yang indah tentang Islam di Eropa, panduan bagi umat Islam untuk menemukan jejak-jejak kejayaan peradabannya di masa seribu tahun kegelapan Eropa.

(Robby H. Abror, Dosen Filsafat UIN Yogyakarta)

Judul buku: 99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa

Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

Penerbit: Gramedia, Jakarta

Cetakan: I, 2011

Tebal: 412 halaman

BEDAH BUKU DI LABORATORIUM FILSAFAT UIN SUNAN KALIJAGA

Standar

Sumber: Tribun Jogja, Selasa 21 Juni 2011

SEJARAH TEROR

Osama bin Laden telah tewas. Kini hadir “Sejarah Teror: Jalan Panjang Menuju 11/9” karya investigatif dari Lawrence Wright dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Buku pemenang Pulitzer Price ini bercerita tentang kisah menggetarkan sekaligus menakjubkan atas hidup kedua pemimpin al-Qaeda, Osama bin Laden dan Ayman al-Zawahiri, Kepala Kontraterorisme FBI, John O’Neill, dan mantan Kepala Intelijen Arab Saudi, Pangeran Turki al-Faisal.

Tidak hanya itu, buku yang ditulis berdasarkan penelitian selama bertahun-tahun dan ratusan wawancara di berbagai negara, menyajikan kisah al-Qaeda, berbagai rencana teroris, kegiatan-kegiatan intelijen Barat, cerita detail berbagai peristiwa yang mengarah kepada peristiwa 11 September, serta kajian matang mengenai dunia yang telah menciptakan para pelaku serangan 11 September dan penerus mereka yang terus merongrong kita sampai saat ini.

Sekitar 50 mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bersama Dr Phil Al Makin MA (Dosen Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Dr Sidik Jatmika (Dosen FISIP UMY), dan moderator Robby H Abror SAg MHum (Kepala Laboratorium Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) akan membedah buku Sejarah Teror: Jalan Panjang Menuju 11/9 yang diterbitkan Penerbit Kanisius pada Mei 2011. Acara ini diselenggarakan pada Selasa, 21 Juni 2011 pukul 09.00-12.00 WIB di Smart Room lt.2 Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya edukatif untuk berkontribusi dalam deradikalisasi agama yang semakin hari semakin meresahkan masyarakat pada umumnya. Acara ini terselenggara atas kerjasama Penerbit Kanisius dengan Laboratorium Filsafat “Hikmah” Jurusan Aqidah dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (kto/*)

+ Penerbit Kanisius: http://www.kanisiusmedia.com/agenda/detail/32/Bedah-Buku-SEJARAH-TEROR

PUASA DAN RAMADANTAINMENT

Standar

Sumber: http://wartakotalive.com/ramadanlive/detil/53755/Puasa%20dan%20Ramadan-tainment dan http://www.wartakota.co.id/detil/berita/53755/Puasa-dan-Ramadan-tainment

Rabu, 3 Agustus 2011

RUBRIK HIKMAH

PUASA DAN RAMADAN-TAINMENT

Oleh Robby H Abror

Puasa memberi pesan pengendalian diri, sebentuk usaha yang sungguh-sungguh untuk mengatasi syahwat dan serbuan godaan duniawi. Dalam usaha ini, dibutuhkan tidak saja niat baik tetapi juga kekuatan moral untuk melakukan perlawanan terhadap segala bentuk kemaksiatan. Kemaksiatan ada di sekitar kita, atau bahkan diam-diam sedang bersembunyi di dalam diri kita sendiri.

Dalam bentuknya yang paling kecil, kemaksiatan itu dapat berupa kebohongan. Dalam rupa yang lebih luas dapat disebut pula korupsi dan juga berbagai kejahatan kemanusiaan sejenis. Kebohongan adalah pelecehan mental terhadap diri kita sendiri. Kebohongan tidak selalu dalam konteks kemunafikan—jika berbicara bohong—tetapi telah mengalami pergeseran maknanya. Dari aktivitas wicara kepada pasivitas individual.

Dalam diam seorang individu, kebohongan itu kerapkali melekat erat dalam dirinya. Kebohongan itu sejenis mekanisme pengingkaran yang terejawantah secara personal, dinikmati secara pribadi, dan tidak perlu orang lain tahu. Di sinilah bahayanya, kebohongan jenis ini dapat melenyapkan kesadaran kita akan pentingnya mawas diri dan tahu diri.

Satu contoh dapat disebutkan di sini. Murid dapat mendengar dengan seksama nasehat gurunya, dengan tanda anggukan. Itu berarti mengiyakan atau kode setuju atas suatu nasehat. Tetapi anggukan itu tidak selaras dengan isi hatinya. Anggukan itu tidak benar-benar merepresentasikan ketulusan, karena sudah dibelokkan kepada hanya sekadar sikap menyenangkan gurunya. Anggukan itu adalah kebohongan nyata dalam bentuk pasivitas individual.

Begitu pula dalam bulan suci ini, telah mengalami banyak pemiskinan makna, bentuk kebohongan lain yang jelas-jelas menyelinap di dalam kesadaran khalayak—umat Islam khususnya. Bulan puasa ini telah dimiskinkan maknanya menjadi “bulan berbelanja,” “bulan konsumsi,” “bulan komoditas”, dsb. Konten acara di berbagai stasiun televisi nasional membuktikan hal itu. Ramadan telah berubah menjadi pasar entertainment, parade hiburan yang mengobral gelak tawa, sihir iklan, dan penggerusan yang sungguh-sungguh terhadap kesadaran spiritual umat Islam.

Spiritualitas itu bahkan telah berhasil dibungkus sesuai kebutuhan atau segmen pasar. Media televisi tidak hanya menghibur tetapi dalam faktanya juga melakukan pemiskinan makna spiritualitas. Khalayak—penonton televisi—disekap dalam apa yang disebut komodifikasi agama. Agama ditata dan ditaklukkan dalam sebuah bisnis hiburan, dalam apa yang disebut Ramadan-tainment, neologisme atau istilah/kata baru yang seringkali dipergunakan dalam komunitas atau konteks tertentu.

Ramadan-tainment lebih tepat disebut pesta religiusitas yang reduksionistik dan berkepentingan bagi pemodal untuk memelintir program-program religinya—ceramah/dialog agama, drama/sinetron religi, gaya religiusitas para selebritas dalam infotainment, komedi, iklan bernuansa religi, dsb. Hiburan tetapi sekaligus sarat anasir pembodohan. Pendek kata, mengemas kebodohan dalam tontonan lelucon.

Khalayak memang butuh hiburan, tetapi yang lebih penting lagi adalah tanggung jawab moral dari media televisi sendiri untuk tidak melulu terjebak pada rating tayangan, melainkan kesungguhannya untuk berpartisipasi dalam menghidupkan makna puasa Ramadan bukan sekadar sebagai ajang hiburan tetapi lebih sebagai madrasah spiritualitas bagi peneguhan ketakwaan dan fakultas batiniah kita.

Dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh dari media televisi untuk membangun kesadaran kritis dan membangkitkan kuriositas umat Islam untuk mau mendalami ajaran agamanya dengan baik. Media televisi tidak boleh membiarkan diri mereka mensahkan “kebohongan sistemik”—pesta hiburan yang membius khalayak—tetapi justru selalu berusaha menekankan muatan positif pada setiap programnya dan mengubah tontonan yang menghibur itu menjadi tuntunan yang meneguhkan ketakwaan kita. Mengabaikan eksistensi orang-orang yang berpuasa dalam keajekan program-program yang membius sama saja dengan mengabaikan sabda Rasulullah saw, betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar saja (HR. Ahmad). Akhirnya, tergantung pada khalayak sendiri, sebagai korban serbuan Ramadan-tainment, untuk cerdas memilah program-program yang bermutu atau memilih mematikan tv. Selamat berpuasa!

(Robby H. Abror, Dosen Akidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta/Peserta Program Doktor Kajian Budaya dan Media, UGM)

Note: Mksh Mbak Hanum sudah kasih refleksi atas tulisan ini. Semoga bermanfaat. Ijin share juga ya. Matur suwun. http://hanumrais.blogdetik.com/2011/08/04/puasa-dan-ramadan-tainment/