MUSA ASY’ARIE, FILSUF GAUL DAN KEMAUAN ‘SEMIOSIS’-NYA YANG MENGGODA

Standar

Sumber: Robby H. Abror, “Musa Asy’arie, Filsuf Gaul dan Kemauan ‘Semiosis’-nya yang Menggoda” dalam Pak Musa Guru Kami: Sebuah Persembahan untuk 60 Tahun Prof Dr Musa Asy’arie, Fahruddin Faiz (editor), (Yogyakarta: LeSFI, 2011), hlm. 103-106.

Musa Asy’arie, Filsuf Gaul dan

Kemauan ‘Semiosis’-nya yang Menggoda

Tidak susah menggambarkan sosok filsuf yang satu ini. Sorot matanya yang tidak tajam alias kalem. Kulit sawo matang. Penampilan yang serba ‘anak muda banget’, seolah ‘tak pernah sirna meskipun di usianya menjelang 60 tahun: kemeja slim dan celana jeans membungkus bahasa tubuhnya lebih mengesankan lagi. Gaya berjalannya yang santai dan terkesan cuek. Tutur katanya yang blak-blakan. Sketsa sepintas kilas yang dapat menggambarkan filsuf gaul yang kini tengah menjadi ‘nakhoda’ di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Arah UIN ditentukan oleh sang nakhoda. Menakhodai kapal UIN dengan gaya gaul model anak muda tentu bukan perkara gampang. Selain harus menuntaskan pekerjaan rumah (PR) yang ditinggalkan oleh pendahulunya, Prof Amin Abdullah, ia juga harus mampu melakukan perubahan dan sudah barangtentu mewujudkan hasil yang lebih baik atau minimal sama dari pendahulunya. Mampukah ia melaksanakan tugasnya? Kita tunggu saja! Tetapi itu bukan ranah yang sedang kita perbincangkan di sini. Biarlah hal itu menjadi bagian dari ijtihadnya untuk melajukan kapal UIN lebih kencang lagi ke arah yang dimaui sang nakhoda.

Menjadi nakhoda (rektor) tentu persoalan yang berat, tetapi justru di balik kepemimpinannya terbersit pesan-pesan kemauan ‘semiosis’ yang menarik, khususnya ketika dikaitkan dengan penampilannya yang khas, yaitu gaya gaulnya. Pendek kata, masing-masing nakhoda patstinya memiliki gayanya masing-masing. Menarik membicarakan cara bagaimana Prof Musa Asy’arie menjalani dan memaknai hidup dengan gaya gaulnya. Seolah ia ingin mengatakan bahwa “aku berbicara dengan gayaku”, seperti apa yang pernah dikatakan oleh Umberto Eco, “I speak through my cloth” (Aku berbicara lewat pakaianku). Melalui pakaian atau dalam konteks ini gaya gaulnya, Prof Musa sepertinya ingin mengajak siapapun yang ia temui untuk ‘terpanggil’ ikut menikmati atau memaknai gaya gaulnya, minimal mau tahu apa yang ia mau.

Kemauan ‘semiosis’ menubuh di dalam praksis kesehariannya, seolah ia ingin memfilsafati kehidupan dengan ringan dan tenang dalam tilikanku yang awam. Aku mencoba meraba kemauannya itu: Ia mau orang lain memahami kemauannya. Ia mau kemauannya dimengerti. Ia hanya mau menjadi dirinya sendiri yang berkemauan. Ia mau bebas. Ia mau dunia tahu bahwa kemauannya lebih dari apa yang orang lain sangkakan terhadapnya. Ia mau menjadi apa adanya. Ia mau orang lain mau mendengarnya. Ia mau membisikkan kepada langit bahwa kemauannya adalah pantulan dari kerja kerasnya selama ini. Ia mau mengubah dunia dari dirinya sendiri. Ia mau bekerja untuk mengubah nasibnya. Ia mau berubah dalam ketetapannya. Ia mau menetapkan perubahan yang biasa ia lakukan. Ia mau melakukannya sekali lagi dalam banyak ruang hidup yang tersisa. Ia mau banyak berbuat dengan mimpi-mimpinya. Ia mau bermimpi lebih bebas agar setiap tarikan nafasnya bermakna buat sesama. Ia hanya mau bahwa setiap kemauannya itu bermakna buat orang lain, apa adanya.

Memahami kemauannya adalah sebentuk tindakan yang terkesan ‘kurang kerjaan’, padahal sebenarnya ya memang betul demikian. Tetapi kesan tersebut menjadi bermakna tatkala aku mengalami momen penting menjadi asistennya—mengajar Filsafat Islam—beberapa tahun sebelum akhirnya eksistensiku diakui juga oleh negara (baca: jadi PNS). Sosok Prof Musa memang apa adanya, kesan yang pertama kali kutangkap saat menjadi mahasiswanya di S1 (masih IAIN belum menjadi UIN). Waktu terus berjalan, sampai akhirnya kita menjadi kolega, teman diskusi yang baik sesama dosen filsafat. Sebagai seorang teman, ia tetaplah guru kami yang menyenangkan, setidaknya buat orang-orang yang sudah memahami bahasa tubuh dan gaya gaulnya.

Bagi orang awam, membaca pikiran dan kemauannya secara sepintas mungkin akan banyak mengalami ‘penderitaan hermeneutik’ dan ‘kekacauan semantik’. Begitu mendengar isi tutur katanya, kesan ‘saru/tabu’ langsung melekat pada dirinya. Mengeluh padanya, hanya akan menambah beban penderitaan dan kekacauan itu. Cara terbaik bergaul dengannya adalah dengan sikap yang sejajar: merespons dengan canda dan tidak terlalu serius menyikapi serbuan celetukannya yang menjurus ‘porno’. Hanya butuh sedikit pembiasaan filosofis untuk ‘menaklukkan’ language game sang profesor yang mempunyai segudang pengalaman pekerjaan yang beragam.

Itulah Prof Musa, filsuf gaul yang meniti hidupnya dengan santai dan tanpa beban. Sebenarnya, di balik gaya gaulnya itu ia tetap konsisten menyuarakan pesan-pesan moral yang dirujuknya pada Al-Quran dan Hadits. Hal itu dapat ditemukan dalam berbagai refleksi kritisnya yang tertuang di pelbagai artikel popular yang dimuat terutama di SKH Solopos dan Kompas. Jika Anda mendapati dalam dirinya semacam ‘split personality’, antara peneguhan kritis Qur’aniknya di satu sisi dan gaya gaul praktik kesehariannya di sisi lain yang tidak nyambung, jangan tanyakan padanya. Sebab ia akan menyerbumu dengan godaan filosofisnya yang mengocok perut. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, “aku berlindung dari godaan filsofisnya yang terkekeh-kekeh!”

Robby H. Abror, S.Ag., M.Hum.

Alumnus AF Angkatan 1998. Dosen Aqidah dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga. Tinggal di Perumnas Minomartani, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta.

Iklan

About ROBBY H ABROR

2011: - Dosen Tetap Jurusan Aqidah dan Filsafat (AF), Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam (F-USAPI), UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. - Kadiv Litbang Laboratorium Agama Masjid Kampus UIN Sunan Kalijaga. - Ketua Laboratorium Filsafat "Hikmah" Jurusan AF, F-USAPI, UIN Suka. - Aktivis Pusat Studi CRSD, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. - Sekretaris Penyunting Jurnal ESENSIA Fak. Ushuluddin, UIN Suka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s