NARCISSISM FOR ALL !

Standar

Sumber: Buletin Filsafat EDANIS Edisi “Mahasiswa Postmodern”, Januari 2012, hlm. 15-16.

Filsafat Narsis untuk Semua!

Robby H. Abror, S.Ag., M.Hum.

Ketika seseorang melukis bujur sangkar putih di atas kanvas putih disebut sebagai sebuah karya yang menyajikan “keagungan yang tak tergambarkan”, bagaimana menurutmu? Gila! Apanya yang agung?!, barangkali begitu jawabannya. Tetapi inilah faktanya, karya lukis itu memang dibuat oleh seorang seniman Rusia bernama Kasimir Malevich pada 1915 dan diakui dengan gigih oleh filsuf postmodern Prancis, Jean-Francois Lyotard. Sebuah pengakuan yang dapat mensubjektifikasi keindahan yang tak terhadirkan dalam apa yang disebutnya sebagai ‘yang sublim’. Inti maknanya, bahwa setiap orang dapat membayangkan apapun secara tak terhingga, tetapi ia tak kuasa untuk menggambarkannya.

Saya menyebut pelukis itu memiliki ‘narsisisme metodis’. Sifat narsis yang ada dalam setiap jiwa, sebagian atau berlebihan, sebentuk perasaan cinta terhadap diri sendiri yang memantulkan karya yang agung, yang tak terhadirkan. Narsisisme metodis melebihi dari sekadar omong kosong, gaya murahan atau nihilisme. Ia tidak terjebak pada patologi intelektual bahkan lebih dari itu, ada spirit di dalam jiwanya untuk selalu melahirkan karya-karya yang agung. Bahkan ada yang percaya bahwa segala yang diludahkan seniman adalah seni, segala sesuatu begitu berarti, tidak ada yang sia-sia.

Kerjakan saja apapun yang kau mau, kau akan menemukan pekerjaan yang baik untuk dirimu sendiri! Posmodernisme memberi kebebasan yang bertanggung jawab untuk melepaskan jiwa-jiwa yang tertindas secara metodologis ataupun terbelenggu secara eksistensial. Setiap jiwa harus berkarya, meskipun tanpa aturan, sebenarnya ia sedang membangun aturan yang baru bagi dirinya sendiri. Demikian pula bagi seorang mahasiswa, ada dentuman semangat di dalam hatinya yang setiap saat menggelegarkan ruh perubahan dalam apa yang saya sebut sebagai ‘kesadaran eksistensial’.

Mahasiswa harus bergerak dalam diamnya dan terus berusaha mengayun sejauh langkahnya. Ia tidak boleh diam-pasif dan membebek saja. Setiap jiwa pasti narsis! Aku narsis, maka aku ada. Tapi tunggu dulu, bukan narsis sontoloyo, narsis yang cuma dijadikan pelet untuk memikat lawan jenis (baca: womanizer / wedokan-bhs Jw), bukan pula narsis yang tak tahu diri, yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Yang dibutuhkan mahasiswa adalah narsis yang eksplosif, berdaya ledak secara gentle, lemah lembut, baik hati dan berbudi bahasa yang baik serta berintensitas energetik secara smart.

Narsisisme sudah menjadi budaya, sudah terlanjur, apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur. Presiden, rektor, dekan, ketua jurusan, ketua RT apalagi mahasiswa suka dengan yang namanya narsis. Bahkan diamnya atau kerendahan hatinya, dapat dibaca sebagai bentuk narsis yang lain. Kau lihat gayanya, kau amati foto-foto yang terpasang di dinding-dinding kantor atau jejaring sosialnya, kau rasakan caranya berbicara dan bergaul, semuanya memantulkan narsisisme bukan? Narsisisme buat semua!

Seorang filsuf memiliki ‘teknologi narsisisme’ yang sulit ditandingi oleh ilmuwan manapun. Narsisisme metodisnya dapat menampar muka alam dan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dengan sengaja agar murka. Kemurkaan epistemologis yang ditunggu-tunggu oleh panggung wacana global untuk mengisi diskusi jagad yang monoton, definitif dan membosankan, diharapkan dapat menggairahkan kembali kejumudan berpikir dan berkarya. Seorang filsuf berbicara dengan ‘komunikasi metafisik’ untuk merangkai makna hidup dan menyemai kebaikan di laboratorium jagad raya.

Komunikasi Metafisik

Mengapa dunia enggan bertanya kepada para filsuf? Apa salahnya sehingga ditinggal pergi oleh anak-anak ilmu pengetahuan untuk mencari jalan dan nafkahnya sendiri-sendiri? “Dasar filsuf sukanya yang aneh-aneh!,” banyak orang bilang begitu. Belum tau dia, kalau tidak aneh namanya bukan filsuf tau! Tapi aneh yang bagaimana? Aneh yang memahami ontologi alam dan realitas. Bersinnya seorang filsuf itu adalah sapaan alamiah terhadap alam dan realitas. Ingat, tidak seorang ilmuwan pun yang begitu peduli terhadap kekonyolan semacam itu.

Alat narsisisme metodis adalah komunikasi metafisik, sebentuk jembatan peradaban bagi budaya kritis yang selalu melahirkan karya-karya yang tak terhadirkan untuk tetap eksis, untuk tetap terjaga sampai kapanpun. Agar kau tak tertipu bahwa apa yang menurut orang banyak disebut sebagai indah itu sebenarnya penuh kepalsuan, relatif. Kau dapat menciptakannya sendiri dalam alam sadarmu bahwa dunia ini benar-benar bersahabat denganmu. Bercengkeramalah dengannya selama kau suka, sampai kebosananmu merasa lelah untuk bosan. Berkaryalah!

Dengan komunikasi metafisik, seorang filsuf dapat menjadi mesin pencari (search engine) setangguh Google, Yahoo, MSN, AOL atau Altavista, yang dapat diandalkan. Mungkinkah? Hanya Tuhan yang tahu. Bukan. Tuhan dan filsuf saja yang tahu. Mengapa? Karena filsuf mempunyai naluri intelektual sekaligus spiritual dalam apa yang disebut oleh Dean Hamer (2006) sebagai ‘gen Tuhan’. DNA-nya filsuf itu sudah sangat profetis. Ucapkan ‘salah’ kepada mereka yang menuduh para filsuf sebagai perongrong kebenaran! Justru para filsuf mencintai kebijaksanaan demi tegaknya kebenaran.

Dalam komunikasi metafisik, para filsuf menebar virus kritisisme dan tafsir kerinduan dan mengabaikan segala bentuk kutukan dan fitnah yang tidak ilmiah. Narsisisme metodis menyapa semua anak filsafat untuk hidup lebih bergairah dan berdaya guna. Lewat tubuh sosialnya, para filsuf mengomunikasikan eksistensinya kepada realitas dalam bahasa intelektual yang ramah dan santun. Para filsuf bukan gelandangan yang memacetkan nalar-nalar kreatif, bukan pula sampah masyarakat yang bikin gaduh keadaban publik.

Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat (AF) punya komitmen yang kuat untuk mentradisikan narsisisme metodis dengan bertanggung jawab dan elegan. Tugas filsuf adalah membangun sejarah yang baik bagi generasi berikutnya dan mewariskan komunikasi metafisik kepada budaya postmodern untuk merayakan perbedaan atas nama kemanusiaan. Jangan mati gaya! Teruslah berkarya!

Dosen Aqidah dan Filsafat dan Ketua Laboratorium Filsafat “Hikmah”, F-USAPI, UIN Sunan Kalijaga.

Iklan

About ROBBY H ABROR

2011: - Dosen Tetap Jurusan Aqidah dan Filsafat (AF), Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam (F-USAPI), UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. - Kadiv Litbang Laboratorium Agama Masjid Kampus UIN Sunan Kalijaga. - Ketua Laboratorium Filsafat "Hikmah" Jurusan AF, F-USAPI, UIN Suka. - Aktivis Pusat Studi CRSD, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. - Sekretaris Penyunting Jurnal ESENSIA Fak. Ushuluddin, UIN Suka.

2 responses »

  1. wah admin kebetulan saya ketemu penjelasan disini, kebetulan saya minat dg jurusan AF di UIN Sunan Kalijaga. Syarat untuk kuliah dsana apa min, bsa ga sy lulusan tkj tp ingn ke jurusan tsb? Syukron.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s