Monthly Archives: Juli 2013

JIHAD MELAWAN PROYEK

Standar

Sumber: Kolom MUTIARA RAMADAN, Bernas Jogja, Kamis, 11 Juli 2013, p. 1 & 6. (http://www.bernasjogja.co/index.php?content=news&cat=2596)

JIHAD MELAWAN PROYEK

Oleh: Robby H. Abror

            Tidak ada yang salah dengan kata proyek. Orang dapat memahaminya sebagai usaha bersama untuk tujuan dan waktu tertentu. Dalam membangun mimpi-mimpi besar, istilah proyek kadangkala inheren di dalamnya. Proyek pembangunan mal, jembatan, stadion, pendidikan, masjid, dan sebagainya. Semuanya terdengar wajar, bukan? Sebagai bahasa yang wajar, istilah proyek dapat digunakan dalam kerangka pemikiran apapun tergantung niatnya.

Niat setiap orang menentukan apakah langkahnya selaras dengan jalan agama atau tidak. Belakangan mata awam terbelalak dengan manusia-manusia proyek yang tersandung masalah. Mereka terdiri dari orang-orang yang tampak baik-baik saja, bahkan pada diri mereka melekat amanah yang berat. Mereka bisa saja sebagai pejabat, aktivis atau pemimpin partai, atau pun orang biasa yang menerima dana aliran gaib. Mereka terjebak dalam proyek ambisius demi kepentingan pribadi ataupun kelompok mereka.

Proyek yang awalnya merupakan usaha biasa, pada praktiknya, mengalami penyimpangan makna. Manusia-manusia proyek yang berwatak tauhid tiba-tiba hanyut dalam nafsu duniawi yang menyeret mereka ke dalam lingkaran setan. Mungkinkah orang-orang yang mengaku beriman, para penganut keyakinan agama monoteis, dapat terlibat dalam masalah itu? Kalau bahasa agama menyebut iman itu dapat naik dan turun, maka pertanyaan tersebut dapat dipahami, tetapi tidak dapat dibenarkan.

Memahami ungkapan “ustadz juga manusia” misalnya, dapat dimaknai sebagai pembenaran terhadap tindakan yang tidak patut, mewajarkan kesalahan sebagai bagian dari sifat manusia. Justru karena ia manusia, maka seharusnya didudukkan sama dan adil dengan yang lain di muka hukum.

Penyimpangan proyek dapat meredupkan cahaya iman. Karenanya, manusia-manusia tauhid hendaknya membentengi iman mereka dengan kejujuran dan kesadaran kritis. Saatnya berjihad melawan berbagai penyimpangan proyek. Berani mengatakan tidak pada penyimpangan dana proyek, menolak iming-iming yang dapat meruntuhkan kehidupan dan nama baik keluarga, serta menghindarkan diri dari setiap tindakan yang memalukan yang dapat menggerogoti integritas dan harga diri setiap manusia tauhid.

* Sekretaris Jurusan Filsafat Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Iklan