BEDAH BUKU DI LABORATORIUM FILSAFAT UIN SUNAN KALIJAGA

Standar

Sumber: Tribun Jogja, Selasa 21 Juni 2011

SEJARAH TEROR

Osama bin Laden telah tewas. Kini hadir “Sejarah Teror: Jalan Panjang Menuju 11/9” karya investigatif dari Lawrence Wright dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Buku pemenang Pulitzer Price ini bercerita tentang kisah menggetarkan sekaligus menakjubkan atas hidup kedua pemimpin al-Qaeda, Osama bin Laden dan Ayman al-Zawahiri, Kepala Kontraterorisme FBI, John O’Neill, dan mantan Kepala Intelijen Arab Saudi, Pangeran Turki al-Faisal.

Tidak hanya itu, buku yang ditulis berdasarkan penelitian selama bertahun-tahun dan ratusan wawancara di berbagai negara, menyajikan kisah al-Qaeda, berbagai rencana teroris, kegiatan-kegiatan intelijen Barat, cerita detail berbagai peristiwa yang mengarah kepada peristiwa 11 September, serta kajian matang mengenai dunia yang telah menciptakan para pelaku serangan 11 September dan penerus mereka yang terus merongrong kita sampai saat ini.

Sekitar 50 mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bersama Dr Phil Al Makin MA (Dosen Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Dr Sidik Jatmika (Dosen FISIP UMY), dan moderator Robby H Abror SAg MHum (Kepala Laboratorium Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) akan membedah buku Sejarah Teror: Jalan Panjang Menuju 11/9 yang diterbitkan Penerbit Kanisius pada Mei 2011. Acara ini diselenggarakan pada Selasa, 21 Juni 2011 pukul 09.00-12.00 WIB di Smart Room lt.2 Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya edukatif untuk berkontribusi dalam deradikalisasi agama yang semakin hari semakin meresahkan masyarakat pada umumnya. Acara ini terselenggara atas kerjasama Penerbit Kanisius dengan Laboratorium Filsafat “Hikmah” Jurusan Aqidah dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (kto/*)

+ Penerbit Kanisius: http://www.kanisiusmedia.com/agenda/detail/32/Bedah-Buku-SEJARAH-TEROR

Iklan

PUASA DAN RAMADANTAINMENT

Standar

Sumber: http://wartakotalive.com/ramadanlive/detil/53755/Puasa%20dan%20Ramadan-tainment dan http://www.wartakota.co.id/detil/berita/53755/Puasa-dan-Ramadan-tainment

Rabu, 3 Agustus 2011

RUBRIK HIKMAH

PUASA DAN RAMADAN-TAINMENT

Oleh Robby H Abror

Puasa memberi pesan pengendalian diri, sebentuk usaha yang sungguh-sungguh untuk mengatasi syahwat dan serbuan godaan duniawi. Dalam usaha ini, dibutuhkan tidak saja niat baik tetapi juga kekuatan moral untuk melakukan perlawanan terhadap segala bentuk kemaksiatan. Kemaksiatan ada di sekitar kita, atau bahkan diam-diam sedang bersembunyi di dalam diri kita sendiri.

Dalam bentuknya yang paling kecil, kemaksiatan itu dapat berupa kebohongan. Dalam rupa yang lebih luas dapat disebut pula korupsi dan juga berbagai kejahatan kemanusiaan sejenis. Kebohongan adalah pelecehan mental terhadap diri kita sendiri. Kebohongan tidak selalu dalam konteks kemunafikan—jika berbicara bohong—tetapi telah mengalami pergeseran maknanya. Dari aktivitas wicara kepada pasivitas individual.

Dalam diam seorang individu, kebohongan itu kerapkali melekat erat dalam dirinya. Kebohongan itu sejenis mekanisme pengingkaran yang terejawantah secara personal, dinikmati secara pribadi, dan tidak perlu orang lain tahu. Di sinilah bahayanya, kebohongan jenis ini dapat melenyapkan kesadaran kita akan pentingnya mawas diri dan tahu diri.

Satu contoh dapat disebutkan di sini. Murid dapat mendengar dengan seksama nasehat gurunya, dengan tanda anggukan. Itu berarti mengiyakan atau kode setuju atas suatu nasehat. Tetapi anggukan itu tidak selaras dengan isi hatinya. Anggukan itu tidak benar-benar merepresentasikan ketulusan, karena sudah dibelokkan kepada hanya sekadar sikap menyenangkan gurunya. Anggukan itu adalah kebohongan nyata dalam bentuk pasivitas individual.

Begitu pula dalam bulan suci ini, telah mengalami banyak pemiskinan makna, bentuk kebohongan lain yang jelas-jelas menyelinap di dalam kesadaran khalayak—umat Islam khususnya. Bulan puasa ini telah dimiskinkan maknanya menjadi “bulan berbelanja,” “bulan konsumsi,” “bulan komoditas”, dsb. Konten acara di berbagai stasiun televisi nasional membuktikan hal itu. Ramadan telah berubah menjadi pasar entertainment, parade hiburan yang mengobral gelak tawa, sihir iklan, dan penggerusan yang sungguh-sungguh terhadap kesadaran spiritual umat Islam.

Spiritualitas itu bahkan telah berhasil dibungkus sesuai kebutuhan atau segmen pasar. Media televisi tidak hanya menghibur tetapi dalam faktanya juga melakukan pemiskinan makna spiritualitas. Khalayak—penonton televisi—disekap dalam apa yang disebut komodifikasi agama. Agama ditata dan ditaklukkan dalam sebuah bisnis hiburan, dalam apa yang disebut Ramadan-tainment, neologisme atau istilah/kata baru yang seringkali dipergunakan dalam komunitas atau konteks tertentu.

Ramadan-tainment lebih tepat disebut pesta religiusitas yang reduksionistik dan berkepentingan bagi pemodal untuk memelintir program-program religinya—ceramah/dialog agama, drama/sinetron religi, gaya religiusitas para selebritas dalam infotainment, komedi, iklan bernuansa religi, dsb. Hiburan tetapi sekaligus sarat anasir pembodohan. Pendek kata, mengemas kebodohan dalam tontonan lelucon.

Khalayak memang butuh hiburan, tetapi yang lebih penting lagi adalah tanggung jawab moral dari media televisi sendiri untuk tidak melulu terjebak pada rating tayangan, melainkan kesungguhannya untuk berpartisipasi dalam menghidupkan makna puasa Ramadan bukan sekadar sebagai ajang hiburan tetapi lebih sebagai madrasah spiritualitas bagi peneguhan ketakwaan dan fakultas batiniah kita.

Dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh dari media televisi untuk membangun kesadaran kritis dan membangkitkan kuriositas umat Islam untuk mau mendalami ajaran agamanya dengan baik. Media televisi tidak boleh membiarkan diri mereka mensahkan “kebohongan sistemik”—pesta hiburan yang membius khalayak—tetapi justru selalu berusaha menekankan muatan positif pada setiap programnya dan mengubah tontonan yang menghibur itu menjadi tuntunan yang meneguhkan ketakwaan kita. Mengabaikan eksistensi orang-orang yang berpuasa dalam keajekan program-program yang membius sama saja dengan mengabaikan sabda Rasulullah saw, betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar saja (HR. Ahmad). Akhirnya, tergantung pada khalayak sendiri, sebagai korban serbuan Ramadan-tainment, untuk cerdas memilah program-program yang bermutu atau memilih mematikan tv. Selamat berpuasa!

(Robby H. Abror, Dosen Akidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta/Peserta Program Doktor Kajian Budaya dan Media, UGM)

Note: Mksh Mbak Hanum sudah kasih refleksi atas tulisan ini. Semoga bermanfaat. Ijin share juga ya. Matur suwun. http://hanumrais.blogdetik.com/2011/08/04/puasa-dan-ramadan-tainment/

MUHAMMADIYAH DAN LORONG GELAP MORALITAS

Standar

Sumber: Suara Muhammadiyah No.13 Edisi 1-15 Juli 2011, hlm. 52-53.

RUBRIK WAWASAN MUHAMMADIYAH

MUHAMMADIYAH DAN LORONG GELAP MORALITAS

Oleh Robby H Abror

Sejak didirikan lebih seabad yang lalu, Muhammadiyah memberikan harapan mulia kepada segenap warga Persyarikatan khususnya dan umat Islam di Indonesia umumnya. Majunya dunia pendidikan, bidang kesehatan dan ranah kemanusiaan tak luput dari peran besarnya. Sejalan dengan itu, segudang prestasi sudah ditorehkan dan nama-nama besar lahir dan bermunculan untuk menyokong dan meningkatkan harapan-harapan tersebut.

Fakta itulah yang akan terus membangkitkan dan membangun rasa optimisme dan kebanggaan warga dan para kader Persyarikatan. Sejarah juga telah membuktikan partisipasi aktif Muhammadiyah dalam kebangunan spirit nasionalisme. Keberadaannya memastikan bahwa kelestarian jejak tradisi rasionalitas senantiasa dipupuk, sikap toleran terus dibina serta hidup saling menghargai dan menghormati tetap dikembangkan Muhammadiyah.

Semua kisah nyata itu sungguh manis dan indah. Tetapi adakah yang berminat mendengarkan kisah-kisah nyata yang sebaliknya, sungguh pahit dan buruk? Barangkali akan lebih banyak yang menutupkan telapak tangannya ke telinganya masing-masing sembari mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Kalau memang demikian, tentusaja kita berharap pasti ada juga takdir yang lain, yang mau berpihak pada kebenaran dan keadilan, dua pilar moralitas dalam agama manapun, yang tengah tertatih di pelataran Muhammadiyah sendiri.

Kita tetap berharap bahwa ada takdir yang mau membukakan telinga sekaligus hati yang jernih orang-orang yang mau mendengarkan dan menyimak dengan hati bening tentang fakta lain yang, jika tidak disadari lebih dini dan ditindaklanjuti, justru akan membangkitkan pesimisme dan kekecewaan warga persyarikatan. Tulisan yang terbatas ini sekadar mencoba introspeksi tentang lima hal penting tentang “lorong gelap moralitas” dalam tubuh Persyarikatan.

     Pertama, nyaring di luar, nyepi di dalam. Perasaan bangga dapat menyelimuti kita, tatkala pucuk pimpinan Persyarikatan bersuara lantang menyoal buruknya moralitas elit politik dan penguasa dengan menyebutkan kesalahan-kesalahannya dan soal kinerja pemerintahannya. Itu dulu, ketika media tidak begitu berpihak pada rakyatnya. Sekarang butuh sisi yang lain, yang seringkali diabaikan. Kelantangan dan keberanian menyuarakan tegaknya moralitas “ke luar”, itu baru satu sisi. Perlu sisi yang lain, yaitu mengarahkan energi positif tersebut “ke dalam”. Ini yang belum nyata dilakukan dengan tegas dan sungguh-sungguh.

Ketika jari telunjuk kita menuding ke lawan bicara, bersamaan dengan itu empat jari lainnya menuding kepada diri kita sendiri. Ini filosofi klasik yang baik. Seharusnya memang demikian, lantang dan berani menyuarakan tegaknya moralitas ke luar sekaligus ke dalam. Ini sangat penting, sesuatu yang kelihatannya sudah mulai ditinggalkan dalam tradisi kita. Spirit “amar makruf nahi munkar” sejatinya dimaknai dua arah sekaligus. Jika tidak begitu, maka akan mengingkari hati nurani. Pupus sudah akal sehat. Selamat tinggal “tradisi rasionalitas” yang telah dibanggakan dan disebutkan di muka.

     Kedua, KKN dan aji mumpung. Singkat kata, “haus kekuasaan”. Sudah memberikan prestasi tentu saja sebuah kebanggaan dan patut dihargai. Hampir di seluruh daerah menyimpan sejarah keberhasilannya masing-masing. Kenyataan ini tidak lepas dari peran dan kerja keras seorang pemimpin dan anak buahnya untuk mewujudkan mimpi-mimpi positif dengan hasil-hasil yang menggembirakan. Yang menjadi soal adalah kemauan untuk memimpin tidak dibarengi dengan kemauan untuk dipimpin.

Ketika seseorang telah naik menjadi pemimpin, seharusnya menyadari bahwa suatu saat akan kembali turun untuk dipimpin oleh orang lain. Inilah pentingnya proses pergantian kepemimpinan atau regenerasi yang baik. Tetapi manakala prestasi demi prestasi telah ditorehkan atas jasa-jasanya selama ini, menjadi tidak mudah baginya untuk melepas begitu saja jabatan itu. Akar masalahnya di sini.

Selain masalah kepemimpinan juga muncul soal KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). Falsafah “aji mumpung” bisa dijadikan landasan bagi pemimpin yang melihat kesempatan emas sebagai potensi. Tetapi ini potensi yang buruk, karena kesempatan itu justru dipergunakan untuk ditanami benih-benih KKN baru (Kesempatan Keluargaku/Koncoku Naik). Kalau sudah demikian, muncul pula niat machiavelian, “Tujuan menghalalkan segala cara” (al-ghayah tubarriru al-wasilah): menyikut teman sendiri, menyikat bukan miliknya dan merampok kesempatan yang seharusnya dapat diamanahkan kepada orang lain yang lebih kompeten, mengorbitkan orang-orang yang bukan kader tulen, memanipulasi data, meminta fasilitas tertentu serta menyalahgunakan wewenang.

     Ketiga, solusi kekeluargaan sebagai upaya justifikasi. Suka atau tidak suka ini sebuah kenyataan. Setiap ada masalah dipecahkan secara kekeluargaan. Suatu tindakan yang baik, sudah seharusnya memang begitu. Tetapi sekarang motif dan bobot masalahnya bisa berbeda-beda dan kadangkala dilakukan berulang-ulang atau mengulangi kembali kesalahannya. Ini masalahnya, bobot kekeluargaan menjadi timpang tatkala beban masalahnya sudah kelewat batas. Solusi kekeluargaan perlu ditinjau ulang agar kesalahan tidak terulang dan berbilang. Perlu tindakan yang lebih tegas dan berkeadilan dalam memutuskan masalah yang sudah terbilang “kelewatan”.

     Keempat, mata melek, hati merem. Kepalsuan adalah musuh semua orang. Kecerdasan dan kealiman (sifat keulamaan) seharusnya meniadakan dan menjauhi kepalsuan. Kesadaran palsu, dalam sejarah, dimusuhi oleh Mazhab Kritis, mengapa di sini justru dikembangkan? Kesadaran yang “emoh” mengajak seseorang kepada kebenaran dan keadilan. Seharusnya, seorang pemimpin tahu makna terang pijar moralitas, tetapi dirinya sendiri yang mematikan energinya dalam kepura-puraan yang memalukan.

Kebaikan hati terpancar di dalam laku dan bahasa tubuhnya. Kendatipun perilaku itu sendiri seringkali menipu. Kepalsuan adalah penipuan moral yang sungguh-sungguh yang sebaiknya dilenyapkan. Kepalsuan mengandung semua unsur yang tidak nyata, tidak benar-benar, dan sudah barangtentu bohong. Senyumnya tidak tulus karena dikelola berdasarkan pasar, konsumen atau jamaahnya. Kehalusan tutur katanya bagai pisau tajam di tangan penjahat, halus tetapi sangat mematikan. Keputusannya sepertinya menyorotkan kebijaksanaan tetapi sebaliknya, bermakna bencana buat orang lain yang tidak disenangi. Singkat kata, kepalsuan ini dalam bahasa agama disebut “kemunafikan”. Memelihara kemunafikan berarti diam-diam menghancurkan Persyarikatan.

Kelima, menebar ancaman untuk melanggengkan kekuasaan dan kepentingan. Apalagi kata yang tepat selain “premanisme”? Istilah itu mutlak berbahaya, apalagi jika menjadi kata kerja. Jika terdapat  secuil sikap itu dalam hati seorang pemimpin atau pengurus persyarikatan, tinggal menunggu waktu yang ditakdirkan atas kerusakan yang nyata.

Setidaknya lima hal tersebut dapat mewakili kompleksitas masalah yang mengemuka, tidak jelas ujung pangkalnya dan akhirnya tenggelam begitu saja. Menjaga sejarah yang sudah baik adalah kebaikan. Tetapi, kebaikan harus disebarkan dengan cara-cara yang baik agar sejarah kembali menorehkan kebaikan untuk Muhammadiyah. Dibutuhkan niat, kepedulian dan kemauan keras yang baik untuk menyelamatkan Muhammadiyah. Hanya dengan cara demikian, masa depan moralitas Muhammadiyah akan tetap terang. Semoga.

*) Penulis adalah Dosen Aqidah dan Filsafat; Kepala Laboratorium Filsafat (LABFIL) Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

MENYAMBUT HARLAH KE-50 FAKULTAS USHULUDDIN

Standar

Sumber: Kedaulatan Rakyat, Sabtu, 31 Juli 2010

 

REFORMULASI STUDI AGAMA UNTUK HARMONI KEMANUSIAAN

Oleh: Robby H. Abror

 

Buruk sangka dapat menjadi penyebab pasang-surut hubungan antar umat beragama. Tak ayal, agama (-agama) seringkali dituduh sebagai biangkeladi konflik hanya karena sebenarnya telah salah dipahami dan didekati. Kesalahpahaman ‘pendekatan’ terhadap agama sesungguhnya merupakan akar konflik. Merawat cara pandang yang salah, misalnya dengan melakukan pendekatan politis terhadap pemahaman parsial dalam memahami dan menyebarkan ajaran agama adalah basisnya kekeliruan itu sendiri.

Wajah kekeliruan itu dapat dilihat dari cara menggeser wilayah otoritas ilahiah ke bawah kuasa manusia yang larut mengatasnamakan Tuhan demi kepentingan politisnya. ‘Aqidah’ politik sangat berbahaya dan dapat berakibat fatal karena memaksakan dakwah dalam pendekatan yang sempit. Konsekuensinya, potret buram kekerasan atas nama Tuhan tak lagi dapat dibendung dan berkembang menjadi tradisi turun-temurun yang tak bertepi.

Fenomena kekerasan atas nama agama telah menorehkan luka sejarah yang dalam bagi bangsa yang majemuk ini. Bangsa yang seharusnya menebar kedamaian dan toleransi, tetapi nasionalismenya dirobek-robek oleh egoisme dan pikiran yang jumud. Di sinilah diperlukan tempat yang tepat untuk memahami arti perbedaan sudut pandang. Tempat yang bersedia dan mau membaca serta mengkaji lebih dalam akar permasalahan dari segala sumber konflik antar keyakinan.

Dunia membutuhkan sebuah fakultas yang telaten dan sabar bergaul dengan basis ajaran agama-agama demi sebuah harmoni, dan Fakultas Ushuluddin adalah jawabannya.

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa Fakultas Ushuluddin telah menjadi pusat pengkajian agama-agama dan rujukan paling fundamental bagi kajian agama-agama. Ketekunan dan keuletan kaum intelektual dan para sarjana dalam mendalami dan mengkaji agama telah melahirkan karya-karya yang sangat bermanfaat bagi umat Islam dan umat manusia. Dengan demikian fakultas ini juga telah banyak melahirkan ulama dan intelektual yang sangat penting eksistensinya bagi bangsa Indonesia.

 

Jantung Peradaban

 

Saat ini nama fakultas ini telah berubah menjadi ‘Fakultas Ushuluddin’, Studi Agama dan Pemikiran Islam’. Perubahan ini tidak mengubah substansi gerakan sosial dan aksi keilmuan yang telah diembannya selama setengah abad. Perubahan tersebut justru menegaskan bahwa fakultas ini layak disebut sebagai ‘jantung peradaban’ UIN Sunan Kalijaga yang sesungguhnya. Di bawah kepemimpinan dekan Dr Sekar Ayu Aryani, fakultas ini terasa lebih kritis dan humanis.

Prestasi di bidang kajian agama-agama dan Islamic Studies juga luar biasa. Karya-karya agung di bidang akidah dan filsafat, perbandingan agama, tafsir hadits dan sosiologi agama telah membanjiri pustaka nasional dan internasional. Setiap usaha membaca Islam dan agama-agama di Indonesia, para peneliti tak pernah abai terhadap karya-karya para sarjana Ushuluddin sebagai referensi wajib.

Sentuhan Prof Mukti Ali menjadikan UIN Sunan Kalijaga masyhur di kancah keilmuan, khususnya kajian perbandingan agama di tanah air. Karyanya, Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia (1988) menempatkannya sebagai tokoh perintis paling penting di bidangnya. Prof Simuh mengentalkan akhlak tasawuf dalam dinamika ilmu keislaman.

Selanjutnya berpuncak pada Prof Amin Abdullah yang telah mengubah secara radikal dan sistematis Institut Agama Islam Negeri (IAIN) bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Prof Amin telah berhasil membawa studi agama-agama yang selama ini dianggap ‘marjinal’ menjadi lebih ‘berwibawa’. Dengan model integrasi dan interkoneksinya, beliau telah mampu menunjukkan bahwa ilmu-ilmu agama dapat saling menyapa dengan ilmu-ilmu  umum lainnya, karena pada hakikatnya mereka adalah satu. Bahwa ilmu itu bermanfaat bagi maslahat kemanusiaan.

Sekarang, Prof Musa Asy’arie diharapkan akan memberi warna filosofis dan tradisi keilmuan yang lebih signifikan dalam kepemimpinan UIN berikutnya.

Beberapa kali rektor IAIN (sekarang UIN Sunan Kalijaga)  berasal dari Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam. Sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa fakultas ini juga menjadi pelopor sekaligus pencetak para pemimpin. Di luar UIN, para alumni Ushuluddin juga banyak yang bercokol di puncak pimpinan beberapa ormas Islam, seperti Muhammadiyah dan NU.

Menjawab Tantangan

Memasuki usianya yang sudah lima puluh tahun ini, Fakultas Ushuluddin memantapkan langkah untuk selalu teguh dalam memelihara tradisi keilmuan Islam dan kajian agama-agama. Harus diakui bahwa benturan kepentingan dalam wajah Islam Indonesia baru-baru ini, wacana fundamentalisme-liberalisme, sedikit banyak mempengaruhi posisi Ushuluddin dalam penjajakan dan penelusuran minat. Antusiasme sempat terimbas berbagai kepentingan justru di luar ranah akademik.

Isu-isu diskriminatif dan sentimental yang berupaya memojokkan Ushuluddin sebagai sumber ‘kekisruhan aqidah’ sebenarnya sangat tidak beralasan. Karena sumber ‘pendangkalan’ sejenis dapat berasal dari lorong-lorong hampa spiritualitas di fakultas/universitas mana pun. Karenanya, fakultas ini sudah berkomitmen untuk dapat berdiri di  tengah-tengah serta berpihak kepada kebenaran dan keadilan, berlandaskan para Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw.

Dua landasan tersebut mutlak mendasari tradisi keilmuan atau ‘keushuluddinan’. Tradisi keilmuan itu dapat berkembang karena didasarkan pada objektivisme. Islam itu agama yang ‘objektif’.

Ketika Islam disebut sebagai agama pembebasan, sangat tepat karena ingin berusaha membebaskan diri dari sestiap perilaku yang tidak objektif (baca: kemungkaran). Maka kajian keislaman harus senantiasa berlandaskan pada objektivitas.

Ajaran Islam tidak pernah salah. Yang seringkali salah justru pemahaman dan praktik menyimpang terhadap ajaran tersebut. Sehingga harus dibedakan antara doktrin dan realitas. Doktrin Islam harus ditaati dan dipatuhi oleh para pemeluknya. Lain halnya dengan realitas pemeluk doktrin tersebut. Realitas sosial umat Islam senantiasa terbuka untuk ditafsirkan, karena menampilkan multi wajah alamiah sebagai umat manusia biasa yang bisa salah.

Karenanya, kesalahan wajib diluruskan. Kebenaran harus diperlakukan dengan cara-cara yang benar. Kebaikan harus diurus dengan langkah-langkah yang baik. Inilah sebenarnya hakikat ‘amar ma’ruf nahi munkar’.

Menuju seabad usianya, Fakultas Ushuluddin harus senantiasa ikhlas berdzikir dan berani berpikir (sapere aude) untuk berpartisipasi membantu masyarakat dalam memecahkan berbagai  persoalan agama dan dunia, memberikan solusi bagi terciptanya kehidupan berbangsa yang lebih baik serta berkomitmen mendalami agama demi harmoni kemanusiaan. Semoga! q – g. (1312 A-2010).

*) Robby H. Abror, S.Ag., M.Hum., Dosen Akidah dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta; Peserta Program Doktor Kajian Budaya dan Media, UGM.

SEMARAKKAN HUT KE-50 USHULUDDIN

Standar

FAKULTAS USHULUDDIN PENTAS SENI

YOGYA (KR)—Perayaan hari jadi Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga yang ke-50 akan diisi dengan berbagai macam kegiatan. Seperti seminar internasional, bazaar dan pameran karya alumni, pementasan seni budaya Kyai kanjeng dan reuni akbar alumni Fakultas Ushuluddin.

“Perayaan ulang tahun emas ini rencananya akan dilaksanakan pada 31 Juli sampai 1 Agustus mendatang. Rencananya dalam seminar internasional tersebut panitia akan menghadirkan pembicara Prof. Mark R. Woodward (Arizona State University, USA), Prof. Dr. Amin Abdullah, Prof. Dr. Musa Asyari (UIN Sunan Kalijaga), Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (UIN Syarif Hidayatullah), Prof. Dr. Machasin (Dirjen Diktis Kementerian Agama) dan Prof. Dr. Uswatun hasanah (Universitas Indonesia),” papar Robby H. Abror, S.Ag., M.Hum., panitia ulang tahun ke-50 Fakultas Ushuluddin didampingi Drs. Singgih Basuki, M.A. (PD II Fakultas Ushuluddin), Sudin, M.Hum. (Dosen Aqidah dan Filsafat), Nurdiyah, M.H. (Kabag TU), Warleni (Kasubag Umum) dan Muryana (Bendahara) saat bersilaturahmi ke redaksi KR yang diterima Wapemred Drs. Ahmad Luthfie, M.A., Kamis (22/7). (Ria)-a

Sumber: SKH Kedaulatan Rakyat (KR), Jum’at, 23 Juli 2010, hlm.2.

BEDAH BUKU PAK AR

Standar

MUHAMMADIYAH RINDU TOKOH YANG MENGAYOMI

Yogyakarta-Kedaulatan Rakyat. Berawal dari rasa prihatin atas kepemimpinan di tingkat nasional hingga akar rumpur yang carut marut, menjadikan Moch. Faried Cahyono dan Yuliantoro Purwowiyadi memberanikan diri untuk menulis buku otobiografi AR Fachrudin dengan judul ‘Pak AR, Sufi yang Memimpin Muhammadiyah’.

Menurut keduanya, sosok AR Fachrudin adalah pemimpin yang cerdas, jujur, sederhana dalam hidup, amanah dan berani. Yang tidak kalah penting adalah sifatnya yang mengayomi rakyat kecil dan mau bergaul dengan siapa pun, menjadikan sosoknya menarik untuk diulas.

“Menulis kisah hidup Pak AR adalah pengalaman menarik. Ada nilai perjuangan seorang pemimpin, dan pemikiran tentang pendidikan, sosial dan kemasyarakatan yang layak diungkap,” ujar Faried saat bedah buku di Aula Joglo KR Lantai 2, Jalan P. Mangkubumi No.40-46 Yogyakarta, Kamis (1/7).

Menurut Faried, sosok Pak AR juga seorang penulis yang produktif, khutbah-khutbahnya dan kejadian-kejadian dalam hidupnya memiliki nilai penting untuk pembelajaran kepemimpinan bagi generasi muda. Kiprahnya dalam Muhammadiyah juga cukup brilian.

Karena itu melalui tulisan mereka berharap masyarakat bisa menggali nilai-nilai hidup Pak AR. “Dalam konteks Muhammadiyah, kami harap dokumen tokoh ini dan gambaran kisah hidupnya bisa menjadi bahan ajar untuk anak-anak, untuk pendidikan Muhammadiyah yang makin baik,” harapnya.

Robby H. Abror, S.Ag., M.Hum, dosen Akidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengatakan, Pak AR adalah sosok teladan Muhammadiyah yang patut menjadi panutan. Kiprahnya dalam kehidupan bermasyarakat dan bersosial patut diacungi jempol. Melalui buku ini diharapkan masyarakat bisa belajar banyak tentang pemikirannya. Apalagi, dalam konteks kehidupan saat ini, di mana krisis kepemimpinan melanda negeri ini, kehadiran buku tentang tokoh-tokoh seperti Pak AR Fachrudin ini dapat memperkaya khazanah pemikiran. (*)-o

Sumber: SKH Kedaulatan Rakyat, Sabtu, 3 Juli 2010.

DEMOKRASI

Standar
POLITIK KARTEL SINGKIRKAN RAKYAT

YOGYAKARTA, KOMPAS—Politik Kartel yang menjadi format perpolitikan nasional saat ini menyingkirkan rakyat dari proses politik. Politik kartel perlahan-lahan akan membunuh demokrasi.

Hal tersebut terungkap dalam seminar “Membedah Politik Kartel di Indonesia” yang diadakan Senat Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, di Teatrikal Perpustakaan Kampus UIN Yogyakarta, Rabu (14/7).

Pengamat parlemen sekaligus dosen di Universitas Gadjah Mada, Sigit Pamungkas, yang menjadi pembicara dalam seminar itu mengatakan, interaksi partai-partai politik pascareformasi 1998 menciptakan pola hubungan yang bersifat sentripetal (memusat). Partai berlomba-lomba membentuk koalisi seperti kartel untuk menikmati kekuasaan.

Persaingan politik antarpartai yang diasumsikan dalam sistem multipartai pun tak terjadi. “Yang terjadi adalah partai bekerja sama untuk mengamankan kepentingan-kepentingan politik mereka,” ujar Sigit. “Akibatnya, rakyat dirugikan karena tersingkirkan dari proses politik,” katanya lagi.

Pembicara lainnya, dosen Akidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Robby H. Abror, mengatakan, politik kartel merupakan “penyakit” atau “musibah” bagi demokrasi. “Politik kartel sama dengan politik ‘dagang sapi’. Sangat berbahaya dan dapat memperlebar pintu-pintu korupsi,” ujarnya.

Pasalnya, politik model itu dinilai lebih mendekati alam ekonomi ketimbang politik itu sendiri. Para elite berkumpul mengusung nafsu politik yang sama dan merajut kepentingan yang saling menguntungkan dalam kerangka persetujuan politis. Robby menambahkan, politik kartel perlahan tetapi pasti akan membunuh demokrasi di Indonesia. (ENG)

Sumber: Kompas, Kamis, 15 Juli 2010, hlm. 2.